Mengenang Kejayaan Bus Tempo Dulu di Pameran Bus Klasik

Bus Kayu POWNIS Mitsubishi Colt Diesel 100 PS milik PT Timah, yang memiliki ikatan sejarah lekat dengan Bus Kayu di Bangka. Foto: Antara

Liputansaku.com, Jakarta – Sejumlah bus-bus jadul dipajang di Hall B2 JI Expo Kemayoran, Jakarta, pada 29 Maret – 1 April 2017 dalam rangkaian pameran bus-bus klasik Indonesia Classic n Unique Bus (InCUBUS). Kehadiran bus-bus tempo dulu tersebut seolah menjadi wahana retrospeksi mengenang kejayaan saat bus masih menjadi primadona sekaligus moda transportasi pilihan utama masyarakat.

Menurut Project Coordinator InCUBUS, A.M. Fikri, semangat itu  yang diusung InCUBUS. “Ke depannya, bus bisa menjadi budaya orang Indonesia. Ini bagian dari sejarah kita, ketika melihat ini ingatan orang-orang bisa terpantik kepada
masa dimana bus masih populer,” katanya saat ditemui di lokasi pameran.

Fikri yang juga pendiri Haltebus.com mengatakan untuk memantik ingatan tersebut, dihadirkan tak kurang dari 10 unit bus klasik, yang salah satunya merupakan bus baru yang memiliki cita rasa klasik.

Salah satu unit bus tertua yang dipamerkan adalah Chevrolet AA Series keluaran 1927 milik Hauwke Auto Gallery, yang bagian penghelanya -istilah untuk menyebut bagian moncong dan mesin bus- dipajang di tengah-tengah Hall B2 JI Expo Kemayoran.

Ada pula unit Mitsubishi Fuso R Series 470 keluaran 1963, yang awalnya digunakan sebagai angkutan TNI Angkatan Udara di Malang dan kini sudah berpindah tangan kepada Judi Setiawan Hambali, pemilik Perusahaan Otobis (PO) Sumber Alam.

Selain itu, ada bus Kayu POWNIS Mitsubishi Colt Diesel 100 PS milik PT Timah, yang memiliki ikatan sejarah lekat dengan Bus Kayu di Bangka. Kemudian,  Mercedes-Benz OF 1113 keluaran 1973 milik PO Lorena, mobil tipe serupa keluaran 1971 milik
Perum Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD), Mercedes-Benz OH 1113 keluaran 1991 milik pribadi serta Mercedes-Benz OH 1519 keluaran 1991 milik Perum PPD.

Sebagai penegasan bahwa bus, moda transportasi yang kerap dianggap ketinggalan itu masih mampu bersaing memberikan pelayanan optimal, bus-bus klasik yang dipajang tersebut datang dikendarai, alias mesinnya masih mampu berjalan. “Seperti milik Lorena itu dikendarai dari Bogor, kemudian milik Sumber Alam langsung dibawa dari Kutoarjo dan bus Kayu POWNIS meluncur dari Bangka,” kata Fikri.

Semangat bus sebagai moda transportasi pilihan, lanjut Fikri, seharusnya bisa dihidupkan kembali mengingat bus masih jauh lebih efektif dalam fungsi dasar transportasi, yaknk mengangkut orang dari satu titik ke titik lain. “Satu bus gandeng itu berkapasitad 120 penumpang, kalau asumsi satu mobil pribadi mengangkut dua orang, maka satu bus gandeng itu setara 60 mobil pribadi.”

Dengan demikian, optimalisasi penggunaan bus seharusnya menjadi opsi prioritas untuk mengurangi kemacetan yang melanda kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta. Untuk menegaskan semangat tersebut, hadir pula satu unit bus
Mercedes-Benz OH 1526 milik Transjakarta yang didesain dengan rasa jadul, alias Transjakarta Vintage Series.

 

 

 

 

tempo.co