Wapres Filipina: Ada yang Ingin Mencuri Jabatanku

Wakil Presiden Filipina, Leni Robredo mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Dewan Koordinasi Perumahan dan Pembangunan Perkotaan (HUDCC) pada kabinet Presiden Rodrigo Duterte.

Meski demikian, Robredo menyatakan masih akan tetap mempertahankan posisinya sebagai wakil presiden. Langkah pengunduran ini diambil perempuan itu karena ia diberitahukan untuk tidak lagi terlibat dalam seluruh rapat kabinet.

Robredo sendiri menduga adalah plot untuk menggulingkan dirinya sebagai wapres. Namun ia tidak menjelaskan lebih lanjut siapa dalang di balik rencana itu.

Namun perempuan yang dikenal sebagai pengacara, aktivis sosial, dan politisi itu mengutip terdapat “perbedaan yang besar dalam prinsip dan nilai” antara dirinya dengan Duterte. Termasuk soal perang terhadap narkoba dan penguburan eks presiden Ferdinand Marcos.

Di Filipina, presiden dan wakil presiden dipilih secara terpisah. Duterte dan Robredo datang dari dua partai yang saling bersaing.

Robredo berhasil memenangkan kursi wakil presiden pada pemilu 9 Mei 2016 lalu melalui Partai Liberal. saat itu ia mengalahkan Senator Bongbong Marcos. Ia pun tercatat sebagai wakil presiden perempuan kedua setelah Gloria Macapagal Arroyo.

“Aku sudah diperingatkan tentang sebuah plot untuk mencuri kursi wakil presiden. Aku putuskan untuk menolak jabatan (Kepala HUDCC) dan fokus dengan tugasku. Namun beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa rencana itu tengah digerakkan,” tulis Robredo di laman Facebook-nya seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin (5/12/2016).

“Aku tidak akan membiarkan kursi wakil presiden dicuri meski aku harus meninggalkan kabinet,” kata dia.

“Kami menerima sebuah pesan singkat Sabtu lalu dari Sekretaris Kabinet, Leoncio Evasco, yang menyampaikan instruksi presiden kepadaku untuk ‘berhenti menghadiri seluruh rapat kabinet sejak Senin, 5 Desember’. Ini adalah upaya terakhir, karena tidak memungkinkan bagiku untuk melaksanakan tugasku (sebagai kepala HUDCC),” imbuhnya.

Sudah menjadi tradisi bahwa presiden Filipina akan menunjuk wakil presiden untuk mengisi satu pos di kabinet mereka. Meski capres berasal dari pihak lawan.

Perang narkoba yang diterapkan Presiden Duterte telah merenggut ribuan nyawa dan memicu kecaman internasional. Juru bicaranya, Martin Andanar dalam wawancaranya dengan televisi ABS-CBN mengonfirmasi bahwa pengunduran diri Robredo dari kabinet diakibatkan oleh “perbedaan tajam”.

“Jika ada sebuah plot maka hal tersebut tidak berasal dari kubu presiden. Besok, mari kita simak apakah pengunduran dirinya akan benar-benar diterima,” ujar Andanar.

Sementara itu Sekretaris Kabinet, Evasco dalam kesempatan terpisah membenarkan dirinya mengirim pesan singkat kepada Robredo. Isinya pun sesuai dengan yang diungkap capres itu. Namun dia menegaskan tidak ada perintah agar Robredo mundur dari kabinet.

(sumber:Liputan6)