Wanita Ini Raup Rp 20 Juta per Bulan dari Bisnis Miniatur

Menjadi seorang pengusaha sebenarnya bukanlah cita-cita Fransisca Riyas (29). Pemilik sekaligus pelaku usaha miniatur kuningan Walidi Craft ini dulunya justru ingin seperti kebanyakan orang yang bisa bekerja kantoran.

“Sebenarnya kalau dulu saya sih inginnya bekerja kantoran jika lulus sekolah, tapi kan waktu itu bapak meninggal, saya belum selesai kuliah. Jadinya karena nggak ada yang bisa melanjutkan usaha ya udah saya yang melanjutkan, apalagi adik-adik saya karena masih sekolah,” kata Fransisca kepada Liputan6.com ketika ditemui di kediamannya di Jl. Gajah Mada Pujowinatan, Pakualaman, Yogyakarta seperti ditulis Kamis (1/12/2016).

Usaha kerajinan kuningan yang dirintis anak sulung dari empat bersaudara ini merupakan usaha turun-temurun. Usaha ini berjalan sejak tahun 1947 dan saat ini dirinya merupakan generasi ke-4 yang diwarisi untuk melanjutkan.

“Saya merupakan turunan keempat, jadi usaha ini dulu yang dirikan kakek buyut saya. Sudah lama sekali, tapi mulai aktif berdirinya di tahun 1980an, dan untuk merambah ke miniaturnya itu sejak tahun 1998. Sebelumnya hanya usaha membuat lonceng gereja dari kuningan,” jelasnya.

Perempuan kelahiran Yogyakarta, 10 Maret 1987 ini menyatakan meski pernah mengalami pasang surut, dirinya selalu optimistis bahwa usahanya tetap bisa berjalan dan penjualan ke konsumen tetap lancar.

“Kalau usaha yah pasti ada pasang surutnya, karena usaha ini ramainya biasa pas liburan aja kayak idul fitri sama akhir tahun, tapi ya kalau bulan-bulan biasanya ya kami tetap standar saja penjualannya, dan kalau saya menghadapi kendala usaha paling komunikasinya tetap harus lancar sama customer, jadi ya saya tetap pegang kendali menghubungi mereka, sering-sering kontrol, itu yang buat usaha ini bisa tetap berjalan,” jelasnya.

Penyuka segala jenis makanan ini mengatakan, saat ini tempat usahanya hanya spesifik mengerjakan kerajinan miniatur dan kuningan seperti becak, sepeda, motor dan andong sementara untuk kuningan seperti tempat lilin dan alat-alat gereja.

“Kalau kuningan, biasa dipesan sama gereja-gereja dan dari Bali, karena ada alat-alat ibadahnya seperti tempat air suci, tapi kadang pasar seperti di Bringharjo juga sering pesan,” katanya.