Tewas di Pesawat Jatuh, Pesepak Bola Brasil Tak Sempat Jadi Ayah

Tak ada yang tahu kapan maut akan menjemput. Entah itu di darat, laut atau udara. Seperti yang dialami oleh para pemain sepak bola Chapecoense.

Meski keseharian mereka habiskan di darat, nyawa meregang di angkasa. Pesawat yang ditumpangi tim Chapecoense jatuh di kawasan terpencil di Madelline, Kolombia.

Tak ada yang tahu kapan maut akan menjemput. Entah itu di darat, laut atau udara. Seperti yang dialami oleh para pemain sepak bola Chapecoense.

Meski keseharian mereka habiskan di darat, nyawa meregang di angkasa. Pesawat yang ditumpangi tim Chapecoense jatuh di kawasan terpencil di Madelline, Kolombia.

Jumlah korban tewas pesawat jatuh diturunkan pada Senin malam, karena ada empat orang yang tak berada di dalam.

Dunia sepak bola Brasil berduka atas kecelakaan yang menimpa pesawat sewaan LAMIA Penerbangan 2933 pada Senin 29 November 2016.

Pesawat menabrak bukit, jatuh dan terbelah dua di pegunungan terpencil pada Senin sekitar pukul 10.15 pagi. Menewaskan 75 orang — sebelumnya disebut 71.

Pilot dan awak kabin di dalam pesawat semua berasal dari Bolivia, sementara sebagian besar penumpang adalah warga Brasil dan sekitar 40 lainnya adalah delegasi klub Chapecoense.

Mereka termasuk 20 pemain, manajer, dan empat anggota lain dari tim kepelatihan termasuk asisten manajer, pelatih pribadi, kinesiologist dan tukang pijat.

Presiden klub dan wakil presiden klub Chapecoense juga di pesawat nahas itu, bersama manajer klub lain. Tim hanya berada sekitar lima menit dari tujuan mereka ketika pesawat jatuh.

(sumber:Liputan6)