Tes Otak Dapat Memprediksi Masa Depan Anak Usia 3 Tahun

Ilustrasi tes Electroencephalogram (EEG), gelombang elektrik sel saraf yang berada di otak. Epilepsyu.com

Liputansaku.com, San Francisco – Para peneliti mengatakan tes otak pada anak usia tiga tahun dapat memprediksi peluang kesuksesan hidup seorang anak di masa depannya.

Menurut penelitian yang dilakukan Selandia Baru itu, skor tes kognitif rendah untuk keterampilan seperti bahasa menunjukkan otak yang kurang berkembang. Hal itu mungkin disebabkan oleh terlalu sedikit stimulasi pada awal kehidupan.

Anak-anak ini lebih mungkin untuk menjadi penjahat, bergantung pada jaminan kesejahteraan atau menderita sakit kronis, kecuali mereka diberi dukungan di masa selanjutnya, tulis penelitian yang muncul di jurnal Nature Human Behaviour ini sebagaimana dikutip BBC, Selasa 13 Desember 2016.

Para peneliti AS dari Duke University mengatakan temuan itu menyoroti pentingnya kehidupan pada masa awal dan intervensi untuk mendukung anak-anak yang rentan. Meskipun studi ini diikuti orang di Selandia Baru, para peneliti percaya bahwa hasilnya bisa berlaku untuk negara-negara lain.

Mereka mengikuti kehidupan lebih dari 1.000 anak-anak. Mereka yang memiliki skor tes yang rendah untuk bahasa, perilaku, gerakan dan keterampilan kognitif pada usia tiga tahun menunjukkan terlibat kejahatan lebih dari 80 persen, memerlukan 78 persen resep dan menerima 66 persen pembayaran kesejahteraan sosial di masa dewasa.

Sementara banyak dari anak-anak dalam penelitian yang terbelakang dalam perkembangan otak berasal dari latar belakang yang kurang beruntung, namun kemiskinan bukan satu-satunya yang berkaitan dengan masa depan yang kurang cerah.

Ketika para peneliti mengeluarkan anak-anak di bawah garis kemiskinan dalam sebuah analisis terpisah, mereka menemukan bahwa proporsi yang sama dari anak-anak kelas menengah yang mencetak skor rendah dalam tes ketika mereka berusia tiga tahun, juga mengalami kesulitan ketika mereka lebih tua.

Para peneliti menekankan bahwa masa depan dari anak-anak itu tidak ditentukan pada usia tiga tahun. Perjalanan hidup mereka berpotensi bisa berubah jika mereka menerima dukungan di kemudian hari, misalnya melalui program rehabilitasi ketika mereka dewasa.

Prof Terrie Moffitt, dari Duke University di North Carolina, Amerika Serikat, yang ikut memimpin penelitian, mengatakan kepada BBC News: “Semakin cepat anak-anak menerima dukungan, maka akan lebih baik.”

Dia mengatakan masyarakat harus memikirkan kembali pandangan mereka tentang orang-orang yang sering dikutuk sebagai “pecundang”, dan sebaliknya menawarkan lebih banyak dukungan.

Prof Moffitt melakukan penelitian dengan suaminya, Prof Avshalom Caspi, dari King’s College London. Ia berharap bahwa penelitian ini akan membujuk pemerintah untuk berinvestasi pada mereka yang paling membutuhkan di masa awal kehidupan.

 

 

 

 

Tempo.co