Siasat Para Kandidat Pemimpin DKI Berebut Pemilih ‘Galau’

Hasil survei sejumlah lembaga menunjukkan bahwa elektabilitas tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta saling bersaing ketat. Hampir semua lembaga yang melakukan survei menyimpulkan bahwa Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung dua putaran.

Tak ada satu pasangan calon pun yang diprediksi bakal memperoleh 50 persen lebih suara di pemungutan suara yang akan digelar 15 Februari 2017 nanti. Namun hasil survei ini masih bisa berubah. Apalagi angka pemilih galau alias swing voters di Pilgub DKI saat ini masih tinggi.

Kepiawaian tiga pasang kandidat dan tim suksesnya dalam merebut hati pemilih galau akan menentukan kemenangan mereka. Lalu seperti apa strategi dari Agus Harimurty Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam merebut hati swing voters?

Juru bicara Timses Agus-Sylvi, Rico Rustombi, mengaku pihaknya telah memetakan kelompok swing voters di Jakarta. Kelompok pemilih yang masih ‘galau’ itu disebut Rico sebagai kelompok yang memiliki latar belakang menengah ke atas atau mapan.

Timses Agus-Sylvi pun akan mengangkat isu-isu krusial yang menarik bagi kalangan menengah atas. “Bagi mereka, isu yang sangat krusial adalah stabilitas keamanan, toleransi keberagaman, keberlanjutan pembangunan dan ekonomi, serta kepastian hukum,” kata Rico, kepada Rico Rustombi, kepada detikcom, Rabu (28/12/2016).

Rico menyatakan Agus-Sylvi bersama timses dan dukungan empat partai pengusung siap ‘menggeber’ kekuatan hingga batas akhir. Pasangan ini didukung oleh Demokrat, PAN, PPP, dan PKB.

“Kami berharap upaya ini akan membuahkan hasil yang baik dan mengkonversi suara untuk elektabilitas suara buat Agus dan Sylvi pada saat pencoblosan 15 Februari 2017,” ujar Rico.

Sementara itu, Ahok memiliki cara khusus untuk menarik pemilih pemula yakni melalui sesi debat. “Nanti salah satu kan akan putusin pas di debat dan semua bisa nonton di debat publik,” kata Ahok di Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (28/12) kemarin.

Ahok mengatakan sebagai calon petahana pada Pilgub DKI 2017, dia dan Djarot tidak perlu lagi memberikan janji-janji kepada warga DKI. Sebab, sebagai petahana, mereka sudah bisa menunjukkan hasil kerja mereka selama ini untuk menarik minat swing voters.

“Kita petahana ya tunjukin yang ada, yang sudah dikerjain. Ya udah, itu saja. Mau bilang apa? Kan petahana nggak bisa ngapa-ngapain,” ujar Ahok.

Ada pun Anies Rasyid Baswedan akan mengedepankan komunikasi yang intensif kepada calon pemilih yang belum menentukan pilihan atau swing voters. Caranya adalah menunjukkan apa yang mau dikerjakan.

“Pertama, komunikasi lebih intensif, dan tunjukkan tentang apa yang mau dikerjakan. Karena itu kami, baik anak muda, baik untuk warga senior yang saat ini belum menentukan pilihan, kami tunjukkan apa yang kami tawarkan,” katanya di Jalan DI Pandjaitan Kav 25 Kebon Nanas, Jakarta Timur, Kamis (29/12.

Selain itu, menghadiri setiap undangan juga dilakukan Anies untuk menarik para swing voters. Hal ini seperti undangan debat kandidat Cagub-Cawagub DKI Jakarta. Dengan menghadiri berbagai kegiatan, warga dapat mengenal lebih calon yang ada dengan lebih jauh.

Tokoh masyarakat dan ulama dipandang Anies sebagai sosok yang dapat memahamkan warga akan calon pemimpin Jakarta yang ada. Untuk Anies-Sandi banyak melakukan pendekatan ke tokoh masyarakat dan ulama.

“Yang ketiga adalah seperti Fuhab ini (Forum Ulama dan Habaib), warga tentu akan melihat. Saya tidak memiliki informasi lengkap. Saya akan lihat pada mereka-mereka yang mungkin memiliki informasi lebih lengkap, siapa, tokoh-tokoh masyarakat,” sebutnya.

Dari berbagai survei yang sudah ada, jumlah kelompok undecided voters atau swing voters memang terbilang cukup tinggi. Pada survei terakhir LSI Denny JA, swing voters berada pada angka 15,70 persen. Sementara menurut survei Lembaga Survei Indonesia, kelompok undecided voters di kisaran angka 17-19 persen.

Sumber : detik.com