Semangat Kebinekaan di Antara Suhu Politik

Sejumlah orangtua dan anak berdandan rapi. Beberapa ondel-ondel juga ikut unjuk gigi, dengan rangkaian umbul-umbul dan rambutnya.

Mereka berkumpul dan bersiap-siap di pinggir Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, untuk mengikuti Parade Bineka Tunggal Ika.

Ratusan peserta lainnya juga mulai berdatangan di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, untuk mengikuti parade yang berlangsung pada Sabtu 19 November 2016 itu.

Para peserta aksi damai ini memakai pakaian beragam. Mulai dari kaus aksi parade bertuliskan “NKRI Bhinneka Tunggal Ika Relawan Nusantara”, hingga pakaian putih khas adat Sunda.

Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Bandung, Blitar, Rembang, dan Semarang.

Seperti rombongan dari sejumlah kota di Jawa Barat, mereka antre memasuki lokasi parkir sejak pukul 06.15 WIB. Pinggiran Jalan Merdeka Selatan pun padat dengan rombongan peserta aksi ini.

Tak hanya itu, sederet gerobak makanan gratis pun berbaris di trotoar. Mereka sejak pagi melayani para peserta aksi untuk sarapan, setelah melalui perjalanan jauh luar kota menuju Jakarta.

Seorang pedagang rujak, Ahmad, mengatakan dia mendapat arahan sejak malam sebelumnya dari panitia aksi. Bersama ketiga temannya yang berbeda dagangan, mereka diminta turut meramaikan parade dengan dagangannya.

“DP Rp 50 ribu. Sisanya nanti. Sudah dikasih nomor telepon,” tutur pria 42 tahun itu di sekitar Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 November 2016.

Sementara itu, penggagas Parade Bhinneka Tunggal Ika Nong Darol Mahmada menyebut, ada sekitar 30 pedagang yang dilibatkan dalam aksi tersebut.

“Kami mengundang gerobak-gerobak untuk terlibat di sini, dan mungkin acara yang ikut di sini. Karena kan banyak peserta kami yang datang dari luar daerah. Mereka pagi-pagi datang belum sempat sarapan. Makanya kami sediakan,” ujar dia.

Perempuan yang akrab disapa Nong itu mengatakan, sebelumnya pihaknya memang telah mengoordinasi sejumlah pedagang untuk masuk dan ikut memfasilitasi konsumsi parade tersebut.

“Ada yang didatangi, ada yang partisipasi dari pedagang sendiri. Ini kan swadaya,” ujar dia.

Panitia penyelenggara memperkirakan akan datang 100 peserta pada Parade Bhinneka Tunggal Ika, dari berbagai elemen masyarakat. Tetapi, para peserta yang hadir bukan berasal dari organisasi massa ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Intinya adalah masyarakat yang berkomitmen menjaga Pancasila dan Bineka Tunggal Ika,” kata dia.

Tujuan acara ini sejatinya untuk mengingatkan kepada masyarakat luas, tentang pentingnya menjaga ideologi Pancasila dan Bineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa.

Namun, acara ini berbentuk parade yang sifatnya tidak menakutkan, dikemas dengan sangat rileks dan gembira.

“Dua poin itu termasuk UUD 1945, kan merupakan konstitusi kita, bangsa Indonesia. Supaya dirawat jangan ada yang mau merampasnya,” ucap Nong.

Parade Bhinneka Tunggal Ika juga sengaja digelar untuk mengingatkan masyarakat, agar terus menjaga kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

“Kedua, kami ingin mempertahankan kepemimpinan pak Presiden (Jokowi) jangan diutak-atik,” ujar Nong.

Parade Bhinneka Tunggal Ika juga menampilkan tarian dari berbagai daerah di Nusantara. Juga, beragam atraksi kebudayaan dari penjuru negeri seperti barongsai dan pencak silat.

“Di acara itu kami juga tidak lupa berdoa. Karena itu, kita di acara parade tidak mengucurkan organisasi, partai, identitas masing-masing, karena kita lebur sebagai anak bangsa,” Nong memaparkan.

Namun, Nong membantah jika acara ini dibuat untuk menandingi demo 4 November 2016. Parade Bhinneka Tunggal Ika murni untuk mengingatkan tentang keberagaman di negara ini.

“Ini yang ingin kami tekankan. Kami ingin acara ini berjalan dengan damai, penuh dengan gembira, jangan diprovokasi juga, biarkan masyarakat merayakan kebinekaannya,” Nong memungkasi.

Kesenian Reog Ponorogo yang tampil atraktif menambah antusias para peserta. Ada tujuh pelaku atraksi tersebut. Satu orang berada di atas panggung acara tersebut dan memimpin tarian keenam reog lain.

Suara gong dan pukulan gendang yang bertabuh rapat menambah meriah suasana. Peserta parade pun ramai-ramai mengangkat tangan dan memuji  atraksi tersebut.

Pada akhir penampilan, orator di atas panggung berpesan untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan Tanah Air.

“Kita tidak ingin menjadi Afghanistan atau Suriah, kita ingin jadi Indonesia,” teriak si orator, Sabtu pagi, 19 November 2016.

Memang, aksi ini tidak mencapai jumlah peserta yang diharapkan, namun patut diapresiasi karena masih banyak orang yang ingin mempertahankan Bineka Tunggal Ika.

Anggota DPR Komisi II Budiman Sudjatmiko berharap, Parade Bhinneka Tunggal Ika digelar kembali pada kemudian hari, dan tentu lebih meriah.

“Ini kan ajang mendadak, cuman disiapkan waktu lima hari saja. Ke depan kita akan menyiapkan lebih besar lagi,” kata Budiman di sela Parade Bhinneka Tunggal Ika, Bundaran Patung Kuda, Gambir, Jakarta Pusa, Sabtu, 19 November 2016.

“Karena kita tahu energi-energi untuk menjaga NKRI, energi rakyat Indonesia untuk menjaga rumah mereka sendiri itu adalah energi yang sangat besar,” Budiman menambahkan.

Namun, acara ini berbentuk parade yang sifatnya tidak menakutkan, dikemas dengan sangat rileks dan gembira.

“Dua poin itu termasuk UUD 1945, kan merupakan konstitusi kita, bangsa Indonesia. Supaya dirawat jangan ada yang mau merampasnya,” ucap Nong.

Parade Bhinneka Tunggal Ika juga sengaja digelar untuk mengingatkan masyarakat, agar terus menjaga kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

“Kedua, kami ingin mempertahankan kepemimpinan pak Presiden (Jokowi) jangan diutak-atik,” ujar Nong.

Parade Bhinneka Tunggal Ika juga menampilkan tarian dari berbagai daerah di Nusantara. Juga, beragam atraksi kebudayaan dari penjuru negeri seperti barongsai dan pencak silat.

“Di acara itu kami juga tidak lupa berdoa. Karena itu, kita di acara parade tidak mengucurkan organisasi, partai, identitas masing-masing, karena kita lebur sebagai anak bangsa,” Nong memaparkan.

Namun, Nong membantah jika acara ini dibuat untuk menandingi demo 4 November 2016. Parade Bhinneka Tunggal Ika murni untuk mengingatkan tentang keberagaman di negara ini.

“Ini yang ingin kami tekankan. Kami ingin acara ini berjalan dengan damai, penuh dengan gembira, jangan diprovokasi juga, biarkan masyarakat merayakan kebinekaannya,” Nong memungkasi.

Kesenian Reog Ponorogo yang tampil atraktif menambah antusias para peserta. Ada tujuh pelaku atraksi tersebut. Satu orang berada di atas panggung acara tersebut dan memimpin tarian keenam reog lain.

Suara gong dan pukulan gendang yang bertabuh rapat menambah meriah suasana. Peserta parade pun ramai-ramai mengangkat tangan dan memuji  atraksi tersebut.

Pada akhir penampilan, orator di atas panggung berpesan untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan Tanah Air.

“Kita tidak ingin menjadi Afghanistan atau Suriah, kita ingin jadi Indonesia,” teriak si orator, Sabtu pagi, 19 November 2016.

Memang, aksi ini tidak mencapai jumlah peserta yang diharapkan, namun patut diapresiasi karena masih banyak orang yang ingin mempertahankan Bineka Tunggal Ika.

Anggota DPR Komisi II Budiman Sudjatmiko berharap, Parade Bhinneka Tunggal Ika digelar kembali pada kemudian hari, dan tentu lebih meriah.

“Ini kan ajang mendadak, cuman disiapkan waktu lima hari saja. Ke depan kita akan menyiapkan lebih besar lagi,” kata Budiman di sela Parade Bhinneka Tunggal Ika, Bundaran Patung Kuda, Gambir, Jakarta Pusa, Sabtu, 19 November 2016.

“Karena kita tahu energi-energi untuk menjaga NKRI, energi rakyat Indonesia untuk menjaga rumah mereka sendiri itu adalah energi yang sangat besar,” Budiman menambahkan.

Tembang Lama’

Tak dimungkiri, “memanasnya” negeri ini berbarengan jelang berlangsungnya pilkada serentak 2017 dan munculnya kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Banyak pihak menilai memanasnya suhu di negeri ini karena dugaan penistaan agama. Tak sedikit pula yang berpendapat kasus dugaan penistaan agama dicampur aduk dengan kepentingan politik, hingga kaum muslim tersulut emosi.

Jika benar murni dugaan penistaan agama, permintaan agama dan penindakan kasus di kepolisian sudah cukup reda. Tak ada rencana demo-demo susulan yang terus bermunculan, pasca-demonstrasi pada 4 November 2016.

Padahal, jika melihat sejarah negeri ini didirikan bukan hanya dari umat Islam. Artinya, ada keberagaman atau Bineka Tunggal Ika.

Wakil Ketua MPR Mahyudin mengistilahkan, kondisi memanasnya negeri ini lantaran tembang lama yang kembali didendangkan orang baru. Atau cara lama untuk memecah-belah Republik Indonesia, hanya saja menggunakan wadah baru, media sosial.

“Soal agama dan politik di Indonesia sudah selesai di tahun-tahun awal kemerdekaan kita,” kata Mahyudin dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di di Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu, 19 November 2016.

Menurut Mahyudin pertentangan agama dan politik sudah lama selesai saat perumusan Pancasila. “Sudahlah, kita sudah pernah melewatinya.”

“Saat perumusan Pancasila pertama, ada usulan di sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kewajiban untuk Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya,” dia menerangkan.

Namun, lanjut Mahyudin, perdebatan itu tak bertahan lama. Sebab, yang berjuang demi kemerdekaan Republik Indonesia tak hanya kaum muslim, maka sila pertama Pancasila itu diubah.

“Saudara kita dari timur Indonesia yang mayoritas Kristen keberatan, dan akhirnya diubah jadi Ketuhanan Yang Maha Esa saja,” dia menjelaskan.

Setelah 70 tahun lebih, kebinekaan Indonesia kembali diuji. Mahyudin menyebut, dengan kemajuan teknologi, terutama adanya ruang publik baru bernama media sosial, membuat nilai-nilai Pancasila luntur.

“Internet ini membuat tak ada lagi batas, bahkan batas negara. Masuklah paham-paham baru itu untuk menggerogoti Pancasila,” Mahyudin memungkasi.

Demo ‘212’

Tak hanya Parade Bhinneka Tunggal Ika, TNI-Polri juga telah menggelar istigasah dengan menghadirkan ribuan masyarakat dari berbagai tokoh muslim dan anak yatim pada Jumat 18 November 2016.

Tujuan acara ini untuk meredam situasi di negeri ini yang belakangan ini cukup memanas. Sehingga diharapkan Pilkada serentak pada Februari 2017 dapat berjalan lancar dan aman.

Namun di tengah upaya tersebut, wacana demo kembali muncul yang disebut-sebut akan digelar pada 25 November dan 2 Desember 2016.

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) memutuskan akan menggelar aksi bertajuk ‘Bela Islam III’ pada Jumat, 2 Desember 2016.

“Saya hanya ingin tegaskan, kesepakatan yang ada di GNPF MUI, karena Ahok tak ditahan sampai sekarang, maka GNPF MUI memutuskan dengan aklamasi kesepakatan dengan seluruh elemen untuk menggelar aksi Bela Islam III, Jumat 2 Desember 2016,” ujar Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, 18 November 2016.

Rizieq mengatakan, aksi lanjutan dari demo 4 November ini akan diikuti berbagai elemen organisasi Islam. Aksi akan dimulai dengan ibadah salat Jumat berjemaah.

“Kita akan gelar salat Jumat di sepanjang Sudirman-Thamrin, dari Semanggi hingga Istana dengan khatib di (bundaran) Hotel Indonesia. Maka kami sebut juga itu Jumat Kubro dan Maulid Akbar, karena jatuh di awal bulan Maulid. Aksinya ibadah, gelar sajadah,” Rizieq menjelaskan.

Namun, rencana tersebut dinilai kepolisian berlawanan dengan perundangan. Hak menyatakan pendapat memang diperbolehkan dalam undang-undang, namun tidak harus merugikan orang lain.

“Kalau dilakukan di Jalan Sudirman-Thamrin undang-undangnya tidak boleh, karena mengganggu ketentraman umum dan hak asasi lainnya,” ujar Kapolri Jenderal Tito Karnavian di majelis taklim Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsy, Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu, 20 November 2016.

Menurut Tito, banyak pihak yang akan dirugikan bila aksi dilakukan di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Terlebih, aksi direncanakan akan menutup kedua jalan protokol itu.

“Kasihan sopir taksi, kasihan ibu-ibu mau melahirkan, kasihan anak-anak mau sekolah, orang kerja potong gaji,” kata dia.”Kurang afdal rasanya. Silakan salat di tempat yang lebih afdal, di Istiqlal ada, di lapangan Monas, ada banyak tempat yang tidak mengganggu,” Kapolri memungkasi.

Sumber : Liputan6