Satpol PP Amankan Gadis Tunawicara yang Mengaku Diculik

Surabaya – Seorang gadis atau remaja putri tunawicara mengaku telah menjadi korban penculikan. Satpol PP Surabaya mengamankan dan mendampingi gadis berjilbab tersebut.

“Kami mendapat laporan dari command center bahwa ada remaja perempuan yang mengaku diculik dan sudah diamankan di pos keamanan Bank BCA di Jalan Veteran sekitar petang hari. Tim Odong-odong datang untuk menjemput,” ujar Firdha Luana, anggota Satpol PP Surabaya yang mendampingi korban di RSUD drSoewandhi, kepada detikcom, Minggu (23/1/2017).

Saat ditemui, gadis tersebut membawa sebuah helm bermotif polkadot. Ia juga membawa sebuah tas ransel. Gadis berjilbab gelap tersebut mengenakan kaos berwarna pink yang diselimuti kaos lengan panjang. Celananya celana kain berwarna hitam. Gadis itu tampil rapi dan bersih. Tak ada kesan acak-acakan yang terlihat

Kepada anggota Satpol PP, kata Firdha, gadis tersebut mengaku bernama Michele dan berusia 17 tahun. Ia mengaku telah diculik saat berada di jalan. Ia diculik dan dibekap oleh tiga orang yang tak dikenal. Ia kemudian dibawa ke sebuah ruangan dan ada di sana selama tujuh hari.

“Ini pengakuan dia, ini cerita versi dia ke kami,” kata Firdha.

Firdha menambahkan, saat dibawa dari pos keamanan bank menuju ke kantor Satpol PP, gadis itu terlihat ketakutan. Ia selalu menutup wajahnya. Ia juga terlihat ketakutan bila bertemu dengan orang lain. Gadis itu mulai tenang saat tiba di kantor Satpol PP dan dibawa ke ruangan.

Firdha mengaku tak begitu sulit berkomunikasi. Karena meski tak bisa bicara, gadis itu ternyata lancar menulis. Dari tulisan itulah Firdha mengetahui pengakuan gadis tersebut.

“Ia bercerita keluar dari rumahnya di Babatan Pantai, Kenjeran dan hendak mencari papa nya. Saat mencari papa nya itulah ia mengaku diculik,” lanjut Firdha.

Satpol PP pun akhirnya membawa gadis itu ke RSUD dr Soewandhi untuk diperiksakan kesehatannya. Setiba di sana, anggota Satpol PP menemui kejutan lain. Ternyata banyak pegawai RSUD dr Soewandhi, khususnya security, kenal dengan gadis itu. Dan mereka memberitahu bahwa nama gadis itu bukan Michele, melainkan AM.

“Dia kelihatan malu saat datang ke sini karena kebanyakan dari kami kenal dengan dia,” ujar Nur Wiyanti, salah satu security RSUD dr Soewandhi.

Nur mengatakan, sekitar tujuh bulan lalu, ayah AM pernah opname. Salah satu yang datang dan menunggui adalah AM. AM dikenal memang supel kepada setiap orang meski mempunyai keterbatasan. Saat ayah AM selesai opname, AM masih sering datang ke RSUD dr Soewandhi.

AM, kata Nur, sering datang pada malam hari sekitar pukul 23.00 atau 24.00 WIB. Ia datang mengendarai sepeda angin. Saat ditanya kenapa ia sering datang malam, AM menjawab dengan menulis di kertas bahwa ia baru saja selesai mengajar. Mengajari anak yang mempunyai keterbatasan seperti dirinya. Tetapi AM tak pernah mengaku di mana ia mengajar.

“Kami sering menasihati dia agar pulang karena tak baik anak gadis keluar hingga larut malam,” lanjut Nur.

Bahkan saking seringnya datang, kehadiran AM kerap diacuhkan oleh pegawai RSUD dr Soewandhi yang memang sedang berkutat dengan kesibukannya. Namun dalam setiap perbincangan, AM dikenal sebagai pribadi yang pintar mengarang cerita.

“Ya seperti itulah, kadang tidak sesuai dengan kenyataan,” kata Nur.

Salah satu anggota keluarga AM yakni kakeknya telah datang. Ia berhasil dihubungi. Kakek AM datang ke kantor Satpol PP dan mengakui bahwa AM adalah cucunya.

“Pengakuan dia tentang alamat Simo Kalangan, ternyata itu adalah rumah ibunya. Informasinya ayah dan ibu AM bercerai. Kakeknya tidak ikut ke rumah sakit ini karena pulang lagi untuk mengambil Kartu Keluarga guna laporan. Apakah ia benar diculik atau tidak kami belum tahu. Kami menunggu keterangan keluarga dulu,” kata Firdha.

Berdasarkan rekomendasi dari dokter, tambah Firdha, AM untuk sementara harus tinggal di RSUD dr Soewandhi. AM akan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan secara umum.

“Dokter bilang begitu. Untuk sementara AM menginap dulu di sini,” tandas Firdha.

sumber : detik.com