Nasib Terkini Akun Pengejek Gus Mus, Pandu Wijaya

Sampai hari ini akun Twitter @panduwijaya masih ramai dibicarakan orang. Bahkan, tak sedikit yang mencari identitas aslinya. Beberapa hari lalu di linimasa, hasil tangkapan layar dari cuitan akun itu menjadi topik yang banyak dibicarakan netizen.

Sebabnya, akun @panduwijaya mengejek dengan kata kasar kepada Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus.

Ejekan itu dilontarkan ketika Gus Mus melakukan kultwit di akun resminya @gusmusgusmu mengenai hukum salat Jumat di jalan raya. “Aku dengar kabar di Ibu Kota akan ada Jum’atan di jalan raya. Mudah-mudahan tidak benar,” tulis Gus Mus.

Ia kemudian melanjutkan kultwit-nya, “Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada BID’AH sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran.”

Tweet Gus Mus yang kedua itu kemudian ditanggapi Pandu Wijaya dengan kasar, “Dulu gak ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang salat Jumat juga saat Rasulullah hijrah ke Madinah. Bid’ah Ndasmu!!!”.

Dua kata terakhir itulah yang membuat para pengikut Gus Mus tidak terima. Mereka menasihati Pandu Wijaya dengan berbagai cara. Ada yang menasihati secara halus, bahkan ada yang hendak mencari jati diri Pandu.

Namun rupanya, akun @panduwijaya makin kepalang. Ia menulis tweet balasan kepada akun-akun yang menasihatinya. Seperti, “Kyai itu jangan dikultuskan. Dia hanya manusia, kalau salah ya dikritisi, diingatken! salah kok dibela. Piye utekmu jal?”.

Dua kata terakhir lagi-lagi dianggap terlalu sarkas. Hal itu yang membuat Ketua Umum Ansor, Gus Yaqut Cholil Qoumas mencari identitas Pandu Wijaya. Tak butuh waktu lama untuk menemukan Pandu. Bahkan para pengikut Gus Mus telah mendatangi kantor di mana Pandu Wijaya bekerja.

Karyawan PT Adhi Karya

Pandu Wijaya merupakan salah satu karyawan di PT Adhi Karya South Building, Jalan Raya Pasar Minggu KM. 18 Jakarta 12510. Rupanya, tak sekali itu ia dianggap menistakan Gus Mus.

Dari beberapa tweet-nya di Twitter, tertanggal 15 Juli 2015, Pandu Wijaya pernah mengirim pertanyaan dalam forum dan me-mention Gus Mus dengan nada yang merendahkan.

“Afwan, ana mau tanya bagaimana hukumya jika onani tidak mengeluarkan sperma/mani, apakah membatalkan puasanya? Syukron”. Anda bisa bantu jawabkah? Apa harus tanya ke Gus Mus untuk masalah ingusan ini?”.

Atas dasar itu, Ketua Umum Ansor, Gus Yaqut Cholil Qoumas, akan mempolisikan Pandu Wijaya dengan kasus penghinaan. Sebab, apa yang dikatakan Pandu bukan lagi sebuah kritik, melainkan penghinaan dan membunuh karakter.

Gus Mus Minta untuk Tidak Dipermasalahkan

Sehari pascadihina oleh Pandu Wijaya, bukannya marah, Gus Mus justru mengunggah status di akun Facebook-nya, Ahmad Mustofa Bisri, dengan saran penuh introspeksi. Gus Mus meminta kepada kita untuk tidak buru-buru marah dan emosi.

“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu jangan buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan,” tulisnya.

Selain itu, beberapa jam setelah artikel ini diunggah, Gus Mus kembali menulis status mengenai nasib Pandu Wijaya. Gus Mus mengatakan, Pandu Wijaya telah meminta maaf kepadanya. Bahkan, permintaan maaf itu juga disampaikan atasan Pandu Wijaya dari PT Adhi Karya secara langsung.

“Saudara Fadjroel Rachman dan Adhi Karya BUMN dengan sungguh-sungguh memintakan maaf atas ucapan salah satu karyawannya. Maka dengan sungguh-sungguh saya menjawab: Tidak ada yg perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda.”

Dan yang membuat semua orang terenyuh adalah Gus Mus secara khusus meminta kepada atasan Pandu Wijaya agar Pandu tidak dipecat dari pekerjaannya. “Saya mohon jangan sampai si karyawan dipecat, sebagaimana usul sementara orang,” tulis Gus Mus dengan menyertakan emotikon tangan memohon.

Atas kelapangdadaan itulah banyak netizen yang menyayangkan tindakan Pandu Wijaya. Netizen juga dibuat takjub dengan kebesaran jiwa ulama seperti Gus Mus yang menurut mereka sudah sangat langka. Semoga kejadian ini membuka mata kita semua tentang betapa maaf sudah sangat mahal di Indonesia.

(sumber:Liputan6)