NASA Luncurkan Mikrosatelit untuk Pantau Cuaca Buruk

Cuaca dan badai yang kian tak menentu dan semakin kuat, mendorong NASA mengembangkan mikrosatelit untuk memonitor pola cuaca di berbagai belahan dunia.

Badan antariksa Amerika Serikat itu kini tengah mempersiapkan misi peluncuran Cylone Global Navigation Satellite System pada bulan depan.

Tujuan dari proyek ini adalah mengukur beragam faktor yang dapat mengarah pada proses terbentuknya badai dan angin topan tropis. Mikrosatelit itu nantinya akan mengumpulkan data intensitas gangguan cuaca, melacak pergerakannya di seluruh dunia, termasuk menghitung kemungkinan badai yang terbentuk.

Associate administrator NASA Thomas Zurbuchen menuturkan, konstelasi delapan satelit direncanakan digunakan untuk misi ini. Dengan demikian, para peneliti dapat menerima lebih banyak informasi ketimbang menggunakan probe dengan orbital tunggal. Selain itu, pengukuran kecepatan angin dalam topan, termasuk siklusnya dapat diketahui.

Dikutip dari Tech Times, Jumat (18/11/2016), data dari mikrosatelit dapat digunakan untuk menambah pemahaman peneliti mengenai badai. Jadi, peneliti dapat mengetahui potensi badai yang mematikan termasuk membantu memprediksi cara angin tersebut terbentuk.
Satelit dalam misi ini juga akan menggunakan Global Positioning System (GPS) untuk memantau secara dekat permukaan samudera di seluruh dunia. Jadi, peneliti dapat menggunakan informasi yang sudah dikumpulkan untuk menentukan kekuatan dan intensitas dari badai berdasarkan kecepatan permukaan angin.

Dibandingkan dengan satelit cuaca sebelumnya, satelit baru ini mampu menembus hujan lebat yang mengelilingi pusat angin topan untuk mengumpulkan data di dalamnya. Sebab, inti dalam angin tersebut berfungsi sebagai ‘mesin’ dari badai itu. Karenanya, penting untuk mengetahui keadaan sesungguhnya.

Namun, sampai saat ini belum ada satelit yang berhasil melakukan hal tersebut. Untuk itu, mikrosatelit ini diharapkan mampu memprediksi keadaan yang sebenarnya terjadi dalam inti angin topan.

Kendati demikian, menurut Chris Ruf, peneliti yang ikut dalam penelitian ini menyebut masih dibutuhkan eksperimen lebih lanjut agar hasil pengukuran lebih akurat.

Sumber : Liputan6