Kisah Pengungsi Irak di Indonesia: Saya Rindu Ibu …

Kami manusia,” “Kami bukan teroris”.

Teriakan itu menggema di depan Gedung Ranvindo yang salah satu lantainya dipakai sebagai kantor perwakilan Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

Di tengah riuh para pendemo yang mayoritas berasal dari Afghanistan, terlihat seorang bapak yang sedang menggendong anaknya. Ia bukan berasal dari Afghanistan tapi Irak.

Kenangan buruk bahkan langsung hinggap di ingatan Yasser, kala bercerita tentang tempat kelahirannya di Irak. Aura kesedihan pun langsung terasa kala kata-kata keluar dari mulut Yasser.

“Di sana sangat berbahaya, ayah saya dan saudara laki-laki saya tewas karena banyak bom,” sebut Yasser.

Kendati enggan pulang, di dalam hati yang paling dalam Yasser sebenarnya ingin kembali pulang. Ibunya, yang menjadi dasar kerinduannya ke kembali ke kampung halaman.

“Saya sangat merindukan ibu saya dan juga keluarga saya di sana. Tinggal ibu saya di Baghdad, ia sedang sakit sekarang,” kata dia.

1 dari 3 halaman

Ingin Bekerja