Kemenkominfo Segera Bertemu Facebook Bahas Penanganan Hoax

Menkominfo Rudiantara (kanan) memberi penjelasan kepada Komisi I terkait Proses Perpanjangan IPP 10 Lembaga Penyiaran Swasta (IPS) di Indonesia, Jakarta, Senin (3/10). (Liputan6.com)

Liputansaku.com, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika akan bertemu dengan pihak Facebook. Pertemuan ini untuk membahas penanganan konten hoax atau berita bohong yang marak di media sosial.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, pihaknya sudah mengirim surat kepada Facebook untuk mengatur waktu pertemuan. Bila tidak ada perubahan, pertemuan akan dilakukan pada akhir Januari 2017.

“Sudah pasti. Akhir bulan Facebook datang, kami sudah kirim (surat), sudah,” kata Rudi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 17 Januari 2017.

Secara umum, isu keamanan internasional seperti radikalisme, terorisme, pornografi, dan perjudian akan menjadi pembahasan. Konten-konten ini akan menjadi pembahasan agar tidak bisa beredar di Indonesia.

“Tapi kalau berkaitan dengan spesifik suatu negara seperti kita kan gaduhnya di media sosial. Harus dibahas sendiri dengan mereka,” jelas Rudi.

Indonesia memang berkiblat pada Jerman dalam membuat regulasi penggunaan media sosial. Paling tidak ada 3 hal yang akan dilakukan, yakni keterlibatan perusahaan sosial media, denda terhadap perusahaan yang tetap menampilkan konten terlarang, serta penyediaan literasi penggunaan sosial media.

Rudi mengungkapkan, Jerman sedang menggodok denda bagi perusahaan sosial media. Nilainya cukup besar yakni Rp 7 miliar per konten yang muncul. Momentum ini pula yang akan digunakan Indonesia untuk membuat tawaran dengan Facebook terkait penyebaran konten hoax.

“Kita juga enggak tahu kapan jadinya. Kita kan undang-undang bisa setahun, dua tahun, tapi yang penting bagi kita, kita manfaatkan momentum itu. Karena kalau kita sendiri kan Indonensia tapi kalau ada negara besar seperti Jerman, kita tinggal nebeng kan mendapat penghargaan lebih,” tutur Rudi.

Selain melibatkan perusahaan sosial media, Rudi juga berharap ada peran aktif dari berbagai komunitas masyarakat. Karena masyarakat lah yang paling sering bersentuhan langsung dengan media sosial.

“Nanti kami ajak bicara dengan komunitas-komunitas. Mereka juga konsen, seperti masyarakat anti hoax kan ada di beberapa kota. Nah itu kita ajak, siapa pun, tidak hanya masyarakat anti hoax,” papar Rudi.

 

 

 

Liputan6.com