Keluarga dari Pangandaran Ini Korban Selamat Zahro Express

Korban selamat kebakaran kapal motor Zahro Express berada di ruang tunggu Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta, 1 Januari 2017. ANTARA

Liputansaku.com, Jakarta – Enam orang asal Pangandaran, Jawa Barat ini, berniat berlibur ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Mereka sama sekali tak menyangka perjalanan mengisi libur pergantian tahun ini, berakhir duka. Namun setidaknya, keenam orang yang masih keluarga ini selamat dalam kecelakaan kapal penyeberangan Zahro Express.

Berikut cerita mereka kepada Tempo, yang menemui keluarga ini, Minggu, 1 Januari 2017.

Fredy Zakaria, 16 tahun, berada di dek kapal saat penumpang lain mulai berteriak panik. Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB, sekitar 20 menit setelah kapal berlayar. “Ada yang teriak ada yang kecebur dua orang,” kata Fredy¬† di rumah sakit Atma Jaya.

Tak berapa lama, penumpang lain mulai berteriak “kebakaran, kebakaran”. Asap hitam pekat muncul dari bagian bawah kapal tempat mesin. Fredy dan lima saudaranya panik. Saat itu, penumpang kapal mulai berlarian. “Saya mau ambil life jacket di kursi. Tapi sudah hilang direbut orang,” katanya.

Fredy lalu berusaha mengumpulkan jaket pelampung untuk empat sepupu dan tantenya, Cucu Rukminingsih, 49 tahun. Empat sepupunya yaitu Dendi Setria (14 tahun), Ayu Purwanti (21), Jerri Ismayadi (17), dan Asep Setiadi (12). Mereka lalu menuju bagian atas kapal. Penumpang saat itu mulai berloncatan ke laut. “Ada yang jatuh ke laut kedorong. Udah desak-desakan,” kata Jerri yang berbadan kecil ini.

Jerri menjadi yang pertama loncat disusul saudara-saudaranya. Hanya Fredy yang tak mendapat pelampung. Di laut, mereka terombang-ambing dan terpisah hingga kemudian diselamatkan kapal nelayan dan kembali berkumpul di Pelabuhan Muara Angke dan dibawa ke Rumah Sakit Atmajaya. Setelah diperiksa dokter, enam saudara ini dinyatakan sehat dan dibolehkan pulang sore ini.

Menurut Cucu, saat itu kondisi kapal penuh. Tak semua penumpang kebagian tempat duduk. Ia dan keluarganya berniat liburan ke Pulau Tidung selama dua hari dengan membayar jasa travel Rp 345 ribu per orang. Di pelabuhan, Cucu dimintai uang lagi oleh seseorang yang mengaku nakhoda sebesar Rp 12 ribu untuk enam orang sebagai biaya jalan. “Tapi cuma dikasih empat lembar tiket. Saya sempat takut. Tapi nakhodanya bilang, “saya nakhoda bu.” Yaudah saya naik kapal jam tujuh lewat,” katanya.

Dalam musibah terbakarnya Zahro Express, 20 orang dinyatakan meninggal dunia. Korban luka dan selamat masih terus didata kepolisian. Musababnya, data penumpang tak sesuai. Kapasitas penumpang hanya 100 orang untuk kapal berukuran 106 gross ton itu. Nyatanya, jumlah penumpang mencapai sekitar 260 orang.

 

 

 

 

Tempo.co