Keberadaan Ekin, Siswa SMP di Bogor yang Hilang Masih Misterius

Bogor – Polisi masih terus mencari Ekin Sura Totonta Bangun (14), yang hilang dari rumahnya di Kampung Sawah, Desa Leuwiliang, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor sejak 28 Februari 2017.

Sudah empat hari berlalu, polisi masih belum mendapat titik terang di mana pelajar kelas VIII SMPN 1 Cibungbulang itu berada.

“Kami masih terus berusaha, namun kami belum menemukan titik terang,” kata Kapolsek Leuwiliang Komisaris I Nyoman Suparta, Sabtu 4 Maret 2017.

Polisi pun sudah memeriksa sejumlah saksi, mulai dari keluarga, tetangga, pembantu, wali kelas, sampai teman-teman korban di sekolah. Namun, keterangan para saksi belum menunjukkan di mana keberadaan anak pertama dari dua bersaudara itu.

“Kami belum tahu apakah anak ini pergi sendiri atau ada orang yang membawanya,” ucap Suparta.

Sebelum menghilang, Ekin sempat meninggalkan surat di meja televisi saat kedua orangtua dan adiknya tidak berada di rumah. Dalam pesan surat yang ditulis tangan itu, Ekin pergi meninggalkan rumah karena telah dipilih Tuhan.

Dalam surat tersebut, Ekin juga mengaku orang terpilih dan akan menyerahkan diri kepada Tuhan, serta menghilangkan keinginan duniawi.

Ekin juga meminta seluruh anggota keluarga agar tidak khawatir dan menyebarkan informasi ini kepada siapapun, termasuk media sosial. Ia pun berpesan agar orangtua dan anggota keluarganya semakin taat beribadah.

“Di surat itu dia meminta kami menunggu 9 tahun,” kata Teger Bangun, ayah Ekin.

Selama ini, Teger mengaku tidak melihat gelagat aneh dari anaknya. Hanya saja, sebelum pergi, Ekin menjadi pendiam.

“Temen dan gurunya di sekolah pun bilang begitu. Seminggu ini Ekin jadi pendiam,” kata dia.

Di mata keluarga, Ekin dikenal sangat religius. Setiap hari Minggu, ia rajin pergi ke gereja untuk mengikuti kebaktian. Ekin juga sering berdiskusi bersama orangtuanya terkait agama.

“Sejauh ini sih tidak ada pemikiran aneh. Cuma dia memang bercita-cita ingin menjadi pendeta,” ungkap Teger.

Teger menduga ada orang yang mempengaruhi pemikiran anaknya sehingga berani memutuskan menghilang, dan pergi dari rumah meskipun usianya masih di bawah umur. “Kalau secara spontan enggak mungkin pergi. Mungkin ada yang sering mempengaruhi,” pungkas Teger.

sumber : liputan6