Jago Diplomasi, Mohammad Reiza Dapat Kepercayaan UNESCO

Supel, ramah dan mudah bergaul, itu kesan pertama saat kita mengenal Mohammad Reiza, alumni President University jurusan Public Relations yang lulus tahun 2008. Dari kampus ini pula, membawa pria kelahiran 17 Agustus 1983 ini mendapat kesempatan bekerja untuk UNESCO. Hal tersebut bermula saat Reiza mendirikan klub mahasiswa “President University Youth Association”.

Anugerah mendapat beasiswa di President University sangat Reiza syukuri, karena keinginan kuliah di universitas internasional bisa terwujud.

“Saya memilih jurusan Public Relations karena salah satu kekuatan saya adalah berhubungan dengan orang dan membuat jejaring. President University memiliki atmosfir internasional karena ada mahasiswa asingnya, seperti dari China dan Vietnam. Hal itu menjadi motivasi saya untuk belajar lebih tekun berkompetisi dengan teman-teman dari negara lain,” ungkap pria kelahiran Surabaya ini.

Kiprahnya di UNESCO

Sejak kuliah di President University, Reiza sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial, seperti mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak kurang mampu di sekitar kampus. Juga kunjungan ke panti asuhan dengan memberikan bantuan materi danpelajaran ke mereka. Bahkan Reiza menginisiasi berdirinya klub mahasiswa “President University Youth Association”.

Klub inilah yang menjadi jembatan Reiza untuk berkiprah lebih jauh, melalui kerja sama dengan beberapa organisasi nasional dan internasional seperti Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.

“Saya menjadi sukarelawan di Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO yang mengurusi bidang kepemudaan dari bulan April 2007 – April 2009. Saat itu pernah berpartisipasi di 1st UNESCO Asian Youth Forum di Korea Selatan tahun 2007 dan saya terpilih sebagai Presiden forum tersebut. Saya juga mengikuti acara 5th UNESCO Youth Forum di Perancis pada tahun 2007. Selama 2 bulan dari November hingga Desember 2008 saya pernah menjadi rekan di UNESCO Bangkok untuk program kepemudaan,” ungkap Reiza yang semasa kuliah di President University pernah magang di PT. Jababeka Tbk, Cikarang Pos, PT. Cardig Interntional, British Chamber of Commerce di Jakarta, dan Unit Komunikasi Informasi UNESCO Jakarta.

Padatnya aktivitas di luar kampus, tidak membuat Reiza melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Anak ke 2, asal dari SMA Negeri 6, Surabaya ini berhasil lulus tahun 2008 dengan IPK 3,7. Judul thesisnya adalah “The External Communication of Indonesian National Commission for UNESCO Towards Its Cooperation with the Indonesian Ministry of National Education”, dengan dosen pembimbing Ezmieralda Melissa.

Dipercaya Kedubes AS

Setelah lulus sarjana, sosok yang memiliki moto hidup “Seimbangkan ilmu dunia dan agama maka hidup akan terasa lebih bermakna” ini bekerja di kantor atase kebudayaan, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dari tahun 2009-2015. Reiza mengerjakan program-program kebudayaan seperti pameran kebudayaan, musik, tarian, film, sastra dan program pembicara.

Selain itu, membawa pakar di berbagai bidang dan budayawan Amerika berkeliling ke beberap kota di Indonesia untuk berinteraksi dan bertukar pikiran dengan orang-orang Indonesia, terutama di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jogjakarta dan Kalimantan.

Selama bekerja di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Reiza sempat menyelesaikan S2-nya di Universitas Indonesia mengenai Kajian Wilayah Amerika, lulus tahun 2012 dengan IPK 3,79. Selanjutnya menyelesaikan S2 Manajemen Pembangunan di Asian Institute of Management (AIM), Manila, Filipina lulus tahun 2015.

“Mimpi besar saya adalah ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S3 di bidang hubungan internasional atau pembangunan internasional di Oxford University atau Harvard University,” ujar Reiza yang ternyata juga jago melukis. Sejak tahun 2011 sudah ada 44 lukisan yang dibuatnya, dan tersebar di beberapa negaraseperti Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam dan Amerika.

Reiza dipercaya mengikuti banyaknya kegiatan internasional tidak terlepas dari kemampuannya berdiplomasi. Bahkan Reiza pernah mengikuti pelatihan Diplomasi Publik di Amerika Serikat tahun 2013. Jadi tidak heran jika ada 24 negara yang pernah ia kunjungi, tentunya juga untuk menyalurkan salah satu hobinya yaitutraveling.

“Selama bekerja di Kedutaan Amerika, saya mengikuti program International Field Review (semacam KKN) di Thailand juga pada bulan Agustus 2015. Juga ada international study tour di Amerika bulan Oktober 2015,” ujar Reiza yang sering berkonsultasi dengan S.D. Darmono (Chairman, Jababeka Group) mengenai karir dan pendidikan.

Mengabdi Di Bappenas

Sebagai anak bangsa, Reiza perlu membagi pengalamannya untuk ikut membangun negeri. Sejak bulan Juli 2016, Reiza yang jago berbahasa Inggris dan Jerman ini memutuskan bergabung di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Saat ini saya bekerja di Direktorat Tenaga Kerja dan Perluasan Lapangan Kerja, Bappenas sebagai Ketua Tim Komunikasi Jejakmu (Jejaring Lapangan Kerja bagi Kaum Muda Indonesia) atau Indonesia Youth Employment Network (IYEN), yang juga menjadi program PBB. Di sini kami melakukan revitalisasi kelembagaan Jejakmu di daerah-daerah seperti Karawang, Bandar Lampung, Bojonegoro dan Timor Tengah Selatan,” ungkap Reiza.

Sosok yang memilik blog pribadi mohammadreiza.wordpress.com ini, kalau sebelumnya sering keliling di berbagai negara, sekarang lebih sering ke daerah-daerah untuk memberikan pendampingan tenaga kerja muda.

“Selama bulan Oktober – Desember 2016, kami sosialisasi Jejakmu ke Karawang, Makassar, Medan, Bojonegoro, Bali dan Solo. Kalau sosialiasi ke daerah-daerah, kami bekerjasama dengan pemerintah kota/kabupaten setempat, Bappeda dan SKPD terkait, instansi pendidikan khususnya SMK, BLK, Kadin, APINDO dan pelaku industri yang ada di daerah tersebut,” ujar Reiza juga terlibat dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional bidang Kepemudaan tahun 2016-2019 yang diselenggarakan oleh Bappenas, Menpora dan UNFPA.

Sumber : liputan6