Isu Cabul di Bekas Kamar Hotel Obama, Ini Bantahan Donald Trump

Gosip ini mulai beredar di Washington DC musim panas tahun lalu: Donald Trump melakukan aksi ‘liar’ selama perjalanan bisnis ke Moskow. Aksinya itu konon dipergoki intelijen Rusia.

Versi lain, yang disampaikan salah satu diplomat level atas dalam pemerintahan Obama menyebut, intelijen Rusia bertindak atas dasar informasi soal obsesi seksual Trump, dan merekam kejadian itu dengan kamera dan mikrofon tersembunyi.

Kini, kurang dari 10 hari jelang pelantikannya sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat, isu serupa kembali mencuat.

BuzzFeed merilis dokumen 35 halaman yang berisi dugaan keterikatan Trump dengan Rusia. Meski belum ada verifikasi dan bukti yang menguatkan tuduhan-tuduhan itu.

Dokumen itu disebut-sebut tersebut disiapkan oleh mantan perwira intelijen Inggris yang disewa oleh lawan-lawan politik Trump — yang kemudian beredar di kalangan politisi tingkat tinggi dan beberapa wartawan sejak musim gugur lalu.

Para pejabat intelijen baru-baru ini menyerahkan dua lembar kesimpulan yang juga memuat terkait tuduhan tersebut pada Donald Trump dan Obama, demikian dilaporkan CNN.

Menurut sumber CNN, langkah lur biasa tersebut dilakukan untuk membuat Presiden AS terpilih sadar bahwa tuduhan yang melibatkan dirinya yang beredar di kalangan lembaga intelijen, anggota senior Kongres, dan pejabat pemerintah lainnya di Washington DC.

Kesimpulan tersebut dilaporkan disampaikan Direktur Intelijen Nasional (National Intelligence) James Clapper, Direktur FBI James Comey, Direktur CIA John Brennan, dan Direktur NSA Laksamana Mike Rogers.

CNN juga mendapat informasi bahwa pada 9 Desember, Senator John McCain memberikan salinan lengkap memo bertarikh Juni-Desember 2016 dari mantan diplomat Inggris yang ditempatkan di Moskow –kepada Direktur FBI James Comey.

Namun, FBI telah mendapatkannya dari mantan agen MI6 yang diserahkan pada pejabat badan intelijen di Roma.

Mantan agen MI6 itu disebut-sebut melakukan penyelidikan yang didanai kelompok dan sumber yang mendukung lawan politik Trump di Republik saat pemilihan pendahuluan (primary). Namun, setelah resmi jadi capres, investigasi lebih lanjut didanai para pendukung Hillary Clinton.

Juru bicara FBI dan National Intelligence menolak berkomentar atas dugaan itu.

Seperti dikutip dari The New York Times, Rabu (11/1/2017), meski demikian CNN tak menyebut secara rinci dugaan yang ditujukan pada Trump, dengan alasan wartawannya tak bisa memverifikasi tuduhan tersebut.

Namun, sekitar satu jam kemudian, BuzzFeed News memuat dokumen tersebut di situsnya.

“BuzzFeed News menerbitkan dokumen lengkap sehingga warga Amerika bisa menata kembali pikiran mereka terkait tuduhan yang diarahkan pada presiden terpilih, yang telah beredar di level tertinggi pemerintahan AS,” tulis media tersebut.

Pemimpin redaksi BuzzFeed, Ben Smith, menolak berkomentar soal artikel tersebut. Namun, dalam memo yang ditujukan pada para stafnya, ia mempertanyakan alasan penayangan berita tersebut.

“Kami memiliki prinsip keterbukaan dalam jurnalistik, untuk membagikan apa yang kami punya dengan para pembaca,” kata Smith.

Di antara sejumlah tuduhan itu menyebut, rezim Rusia mendukung dan membantu Trump setidaknya selama lima tahun.

Rusia juga disebut-sebut memiliki bukti yang bisa digunakan untuk ‘memeras Trump’.

Bukti itu, berdasarkan seorang sumber — sebut saja D — menyebut, Trump menyewa kamar di Ritz Carlton Hotel, Moskow.

Presidential suite itu pernah diinapi Presiden Barack Obama dan istrinya dalam kunjungan resmi ke Rusia.

Konon, Donald Trump menyewa sejumlah PSK untuk melakukan pertunjukan ‘golden shower’ atau mengeluarkan urine di depannya.

Dalam dokumen tertulis, hotel tersebut berada di bawah kontrol badan intelijen Rusia , dipasangi kamera dan mikrofon untuk merekam apapun yang mereka inginkan.

“Perilaku Trump yang ‘tidak ortodoks’ di Rusia menyediakan aparat di sana bukti material memalukan terkait sosok yang kini jadi kandidat presiden Republik — untuk bisa memerasnya kapan pun diperlukan.”

Isi dokumen tersebut dibantah pengacara Trump, Michael Cohen. “(Laporan) itu sungguh konyol. Jelas, orang yang menciptakan itu menuliskannya dari imajinasinya sendiri dan berharap media liberal akan memuat cerita palsu ini,” kata dia.