India Berkuluh Larang Wi-Fi dalam Penerbangan

Barisan kursi penumpang yang terdapat di pesawat Boeing B777-300ER di Hanggar 2 Garuda, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten (31/7). Pesawat tersebut memiliki fasilitas in flight Connectivity yang memungkinkan penumpang mengakses koneksi internet melalui wifi. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Liputansaku.com, New Delhi – Setelah memberi janji yang memungkinkan konektivitas internet dalam penerbangan pada Agustus lalu, pemerintah India akhirnya menolak untuk melakukannya dengan alasan keamanan.

Sebuah laporan Wall Street Journal hari ini, 12 Desember 2016, menyatakan bahwa meskipun ada berbagai permintaan dari industri, dan sertifikasi dari Badan Penerbangan Federal AS dan badan pengawas lainnya, India akan terus melarang Wi-Fi pada penerbangan sipil.

Seorang juru bicara yang dekat dengan Menteri Penerbangan Sipil R.N. Choubey telah mengatakan bahwa meskipun kementerian penerbangan mendukung melonggarkan aturan itu, persetujuan dari “kementerian komunikasi” masih tertunda.

Sikap pemerintah India tentang masalah ini yang belum jelas, telah menimbulkan kecemasan pada operator domestik seperti Jet Airways yang telah mengumumkan peluncuran layanan Wi-Fi dalam penerbangan pada bulan Februari.

Hukum India dalam hal ini begitu ketat sehingga penerbangan internasional diwajibkan untuk mematikan layanan internet mereka ketika mereka terbang di atas wilayah udara India.

Laporan lebih lanjut menyatakan bahwa “Kementerian Dalam Negeri yang menjadi penghalang untuk mengangkat larangan itu dan pejabat di instansi lain mendukung perubahan.”

Sebagian besar negara di dunia, termasuk tetangga India, Cina dan Pakistan, memungkinkan konektivitas dalam penerbangan di wilayah udara masing-masing.

Sementara spesialis teknologi penerbangan bersikeras bahwa Wi-Fi di udara dalam proses uji coba, pemerintah India terus dihantui oleh insiden pembajakan Kandahar 15 tahun yang lalu.

Untuk sebuah bangsa yang membanggakan populasi internet mereka yang berkembang, dan terbesar kedua di belakang Cina, larangan ini adalah ironi besar.

 

 

 

 

Tempo.co