Genjot Kompetensi SDM Transportasi, 4 Unsur Ini Harus Terpenuhi

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk yang melimpah ini tak lantas membuat pemerintah maupun pihak swasta mudah mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di sektor transportasi.

Secara umum untuk mendapatkan SDM yang berkualitas dan memiliki standar kompetensi dimulai dari dunia pendidikan serta sarana dan prasarana yang mendukungnya. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) Kementerian Perhubungan, Dr. Wahju Satrio Utomo mengatakan perihal pendidikan dan pelatihan ada 4 unsur yang harus terpenuhi.

“Ada 4 unsur yang harus dipenuhi pemerintah dan pemangku kepentingan perihal pendidikan dan pelatihan SDM di sektor transportasi,” ujar Tommy, sapaan akrab Dr. Wahju Satrio Utomo beberapa waktu lalu di Jakarta.

– Sarana dan Prasarana

Untuk menghasilkan orang-orang yang tangguh dan berkualitas di sektor transportasi baik itu darat, laut, dan udara, sarana dan prasarana menjadi unsur pertama yang harus dipenuhi.

“Kita menghadapi tantangan keterbatasan kapasitas pelajar. Setiap tahun, kita hanya bisa merekrut sekitar 2700 orang untuk sektor transportasi darat, pelayaran, dan penerbangan, termasuk kereta api,” ujar Wahju.

Karena keterbatasan asrama untuk pendidikan reguler itu, lanjut Tommy, maka pendidikan non reguler atau akademik yang tidak menginap di asrama angkanya jadi lebih besar.

Masih terkait sarana dan prasarana, Tommy juga menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan dibidang transportasi mewajibkan sekolah atau balai pelatihan memiliki standar sarana pelatihan. Seperti engine simulator untuk di Laut, simulator sesawat dan Air Traffic Control untuk di udara.

“Tanpa itu, sumber daya manusia tidak mungkin mendapatkan sertifikat kompetensi. Tidak bisa hanya kelas, kursi, dan papan tulis saja,” jelas Tommy yang mengawali karir di Kementerian Perhubungan dari Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri (KSLN) Departemen Perhubungan Tahun 1985.

– Tenaga Pengajar

Unsur kedua yang harus dipenuhi, menurut Tommy yakni ketersediaan tenaga pengajar. Dikatakan olehnya, SDM yang bersedia menjadi guru, dosen, hingga instruktur jumlahnya masih terbatas, salah satu faktornya adalah masalah gaji.

“Misalnya pelaut, kalau bekerja di kapal penghasilannya bisa 5.000 – 6.000 USD, bahkan ada yang 9.000 USD per bulannya. Kalau di sini (sekolah/balai diklat) digaji dengan ukuran pegawai negeri, pasti jauh perbedaannya,” ujar Tommy.

Namun, masalah kesenjangan penghasilan ini, kata Tommy berangsur berkurang karena sekolah-sekolah pendidikan perhubungan menjadi BLU (Badan Layanan Umum).

“Jadi UPT (Unit Pelaksana Teknis) tapi BLU juga, jadi bisa menyelenggarakan pendidikan seperti swasta sehingga tidak perlu menyetorkan pendapatannya ke kas negara. Mereka (sekolah-sekolah) bisa membayar pengajar-pengajar secara layak. Hampir 60 persen dosen-dosen kita sekarang juga seorang praktisi,” ucapnya.

Lulusan Program Doktor Manajeman Pendidikan UNJ ini mencontohkan terdapat nakhoda yang aktif berlayar juga mengajar. Instruktur penerbangan sebagian juga ada yang mengambil kerja terbang. Misalnya hari senin, selasa rabu di kampus, Jumat-Minggu terbang baik dengan maskapai BUMN maupun swasta.

“Jadi betul-betul praktisi, pelabuhan juga begitu, bandara juga begitu,” jelas Tommy.

– Kurikulum

Unsur selanjutnya atau ketiga yang harus dipenuhi adalah perihal ‘Kurikulum’. Dikatakan oleh Tommy bahwa kurikulum harus selalu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan di lapangan.

“Tidak mungkin menyelenggarakan suatu pendidikan dan pelatihan dengan kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Caranya? Dosen-dosen kita minta untuk magang di lapangan (Pelabuhan atau Bandara). Diamati betul apa yang mereka butuhkan, begitu kembali ke kampus mereka bisa mengaplikasikan apa yang mereka temukan untuk pembelajaran di kampus-kampus,” jelas Tommy.

– Metode Pendidikan

Unsur keempat yakni metode pendidikan. Menurut Tommy metode pendidikan dan pelatihan harusnya menghasilkan SDM yang berkompeten dan berkualitas diantaranya memiliki fisik yang prima, profesional dalam bekerja, dan memiliki etika.

“Oleh karena itu, metodenya adalah dengan boarding school, mereka diasramakan. Fisik, kompetensi, tanggung jawab dan disiplinnya digembleng di asrama sehingga begitu lulus, mereka sudah memiliki kemampuan untuk bekerja dengan baik,” kata Tommy.

Tahun 2017, BPSDM Perhubungan memiliki target meluluskan 500 ribu insan transportasi. Untuk mencapai target tersebut, BPSDM perhubungan juga menawarkan diklat secara gratis bagi putra/putri anak bangsa yang ingin berkarir di sektor transportasi baik darat, pelayaran, dan penerbangan.

Sumber : liputan6