Gempa Dahsyat Ini ‘Diramalkan’ Terjadi pada Tahun 2017

Lindu 7,4 skala Richter (SR) yang mengguncang timur laut Jepang, dekat Prefektur Fukushima pada Selasa 22 November 2016 pukul 06.00 waktu setempat membangkitkan ‘horor’ yang pernah terjadi pada 2011 lalu: Gempa Tohoku.

Perintah evakuasi pun dikeluarkan. “Tolong, jangan berpikir bahwa Anda aman. Pergilah ke tempat yang lebih tinggi,” demikian pengumuman yang disampaikan media NHK.

Meski tak menjulang tinggi, tsunami mini terjadi pascagempa. Video detik-detik usai lindu mengguncang merekam penampakan gelombang aneh yang terbentuk di sungai.

Berdasarkan estimasinya, gempa akan terjadi pada tahun 2017, dengan magnitude serupa dengan lindu 2011.

Profesor Emeritus geologi bawah laut dan seismologi di University of the Ryukyus di Prefektur Okinawa itu mendasarkan prediksinya pada observasi di sejumlah wilayah di Jepang yang belum mengalami gempa besar, namun kerap mengalami lindu kecil.

Pada Juli 2014, ia menyebut wilayah tersebut sebagai ‘mata gempa’ (earthquake eyes). Kimura memprediksi lokasi Gempa Tohoku 2011 menggunakan teori yang sama, empat tahun sebelumnya.

Menurut sang ilmuwan, gempa bisa jadi mengguncang pada 2017 — meski kalkulasinya yang sebenarnya adalah 2012 plus minus 5 tahun. Ia mengatakan, pusat gempa diperkirakan berada di Kepulauan Izu, rangkaian pulau vulkanik yang membentang dari Semenanjung Izu di Prefektur Shizuoka.

Kimura memperkirakan, kekuatan guncangan akan serupa dengan 2011, yakni 9 skala Richter.

Senada, penikmat astronomi, Yoshio Kushida juga meramalkan gempa besar akan melanda Jepang dalam waktu tak lama.

Namun, Dr Robert Geller, profesor geofisika dari Universitas Tokyo membantah dua prediksi tersebut.

Gempa Bisa Diprediksi, Fakta atau Mitos?

Apakah gempa bisa diprediksi kapan dan di mana akan mengguncang, masih jadi topik kontroversial di antara para ilmuwan.

Seperti dikutip dari situs Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), prediksi gempa ilmiah diawali pada pertengahan hingga akhir 1970-an. Pada musim dingin 1975, para pejabat China memerintahkan evakuasi penduduk Haicheng yang populasinya mencapai sekitar 1 juta di Provinsi Liaoning.

Perintah evakuasi berdasarkan laporan para ilmuwan dan peneliti yang mengamati perubahan tingkat elevasi tanah dan air tanah. Juga, pengamatan pada perubahan sikap yang aneh pada binatang dan gejala-gejala lain yang diyakini menjadi pertanda gempa.

Benar saja, beberapa hari kemudian gempa dengan kekuatan 7,3 skala Richter mengguncang pada 4 Februari 1975. Sebanyak 2.041 orang tewas, 27.538 lainnya luka-luka.

Jumlah itu relatif sedikit. Seandainya evakuasi tak dilakukan, niscaya korban jiwa dan luka akan melampaui 150 ribu orang.

Namun, optimisme prediksi gempa tersebut tak bertahan lama. Pada tahun berikutnya, 28 Juli 1976, lindu dengan kekuatan 7,6 SR mengguncang Tangshan, sebuah kota industri yang berkembang dengan jumlah populasi mencapai 1 juta jiwa.

Karena tanda-tanda terjadinya gempa tak terbaca, tidak ada peringatan dan perintah evakuasi dikeluarkan. Akibatnya, sungguh tragis. Bumi yang berguncang merenggut 250 ribu nyawa dan melukai 164 ribu manusia.

Tim peneliti AS yang mengunjungi China pada 1976 untuk menginvestigasi prediksi gempa yang berhasil di Haicheng menemukan, bahwa perkiraan tersebut utamanya didasarkan pada pengamatan pada gempa awalan (foreshock).