Cucu Bung Karno Napak Tilas Sang Kakek di Tamansiswa

Yogyakarta – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani akhirnya mengunjungi Perguruan Tinggi Tamansiswa di Yogyakarta. Dia mengaku kedatangannya ke Tamansiswa ini yang pertama kalinya.

“Sejak kecil saya berpikir seperti apa Tamansiswa,” kata Puan di sela Pembukaan Kongres XXI Persatuan Tamansiswa bertajuk Revitalisasi Tamansiswa Menyukseskan Revolusi Mental, Menghasilkan Generasi Emas Indonesia yang Berpekerti Luhur di Pendopo Tamansiswa, Yogyakarta, Rabu, 6 Desember 2016.

Cucu dari proklamator Sukarno itu pun menuturkan kakeknya sempat memberi kontribusi ke Tamansiswa di Bandung. Dia mengatakan sejarah pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Tamansiswa yang selain sebagai alat perjuangan, juga berperan sebagai kawah candradimuka para kader bangsa.

Puan juga mengapresiasi rencana dibukanya Tamansiswa di Papua dan siap untuk menggunting pita saat peresmian.

Perguruan Tamansiswa akan membuka sekolah Tamansiswa di Papua dalam kurun waktu satu sampai dua tahun mendatang. Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa Sri Edi Swasono meminta secara langsung kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) meresmikannya.

“Tamansiswa sudah ada dari Medan sampai ke Ternate Tidore tetapi yang belum di Papua dan kami berniat dalam setahun dan dua tahun ada Tamansiswa di Papua,” ujar Edi.

Menurut dia, keberadaan Perguruan Tamansiswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta ini tidak bisa dilepaskan dari Sukarno. Sebab, presiden pertama Indonesia itu pernah mengajar di Tamansiswa.

Ia mengenang, Bung Karno pernah menyampaikan amanatnya saat berpidato di Tamansiswa bahwa Tamansiswa memberikan kesempatan kepada rakyat yang ingin mencerdaskan diri. Meskipun demikian, Edi tidak menampik seiring perkembangan zaman, sekolah Tamansiswa dan swasta mulai terpinggirkan.

“Padahal tatkala pemerintah belum mampu mendirikan sekolah pada 1940-an yang mendirikan sekolah adalah swasta, sekolah swasta lah yang memenuhi keinginan rakyat untuk bersekolah,” ucap dia.

Adapun Gubenur DIY Sultan HB X menuturkan momentum ini mengingatkan pada perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Saat ini, kata dia, dunia pendidikan masih berkutat di kurikulum dan perlu tidaknya ujian nasional.

“Ujian nasional ini sebenarnya untuk pemetaan standar sekolah atau siswa,” ujar dia.

Sultan menilai sesuai dengan tema acara ini, sistem pendidikan di Tamansiswa mendidik, tetapi tidak memanjakan serta memajukan budi pekerti, dan kehidupan selaras.

“Seperti ajaran Ki Hajar Dewantara pendidikan harus membentuk watak bangsa, disiplin, kehormatan diri, jujur, dan sebagainya,” ujar penguasa Keraton Yogyakarta tersebut.

Sumber : liputan6