Apa yang Terjadi Jika Otak Manusia Terhubung dengan Komputer?

Beberapa dekade lalu, dinas intelijen CIA mencoba mengembangkan sistem pengendalian pikiran manusia dengan tujuan menciptakan ‘mesin’ pembunuh musuh.

Terdengar seperti kisah dalam film, tapi di masa kini, sudah ada kemajuan dalam menghubungkan otak manusia dengan komputer. Bisa saja otak manusia kemudian diprogram menggunakan komputer untuk tujuan-tujuan tertentu, walaupun jalan ke sana masih jauh.

Dikutip dari laman berita Cisco pada Jumat (16/12/2016), hubungan otak manusia dengan mesin sudah ada sekarang. Segelintir orang sudah melakukannya, tapi hanya untuk senang-senang.

Misalnya, ada permainan komputer “Throw Trucks With Your Mind” yang bisa dibeli seharga US$ 25. Pembuat mainan itu mengatakan bahwa benda itu “akan memberikan tenaga super telekinetik yang dikendalikan dengan pikiran.”

Benar-benar menggunakan pikiran. Rahasia permainan ini adalah perangkat kepala (headset) yang dirancang oleh perusahaan NeuroSky yang berpusat di San Jose.

Headset itu menggunakan biosensor EEG, suatu jenis antarmuka otak dengan komputer (brain-computer interface, BCI) yang melacak gelombang otak dan mengubahnya menjadi perintah yang dapat dimengerti oleh mesin.

Menurut situs web NeuroSky, “Biosensor EEG kami mengumpulkan sinyal-sinyal listrik, bukan pikiran itu sendiri, untuk menerjemahkan kegiatan otak menjadi tindakan.”

Untuk diketahui, para dokter sudah lama menggunakan EEG untuk memeriksa permasalahan dalam otak. Tapi, pembaca EEG adalah suatu mesin yang mahal, bisa seharga ribuan dolar.

Penggunanya selama ini terbatas dalam dunia kesehatan hingga akhirnya seorang pakar bernama Dr. Ted Berger dari University of Southern California mulai menggali lebih dalam tentang pola-pola yang ditemukan dalam otak dan ia berusaha mengertinya

Perkembangan Pesat

Penelitian-penelitian tentang hal tersebut mengalami kemajuan pada 2011 dengan hadirnya mesin terkendali-pikiran pertama.

Lalu, pada 2014, untuk pertama kalinya para peneliti berhasil menghubungkan 2 otak manusia melalui suatu jejaring (network).

Sekarang ini Neurosky dan sejumlah perusahaan lain seperti Neuroelectrics dan Blackrock Microsystems mulai membawa sistem ini ke arus utama. Permainan hanyalah salah satu penggunaannya.

Penggunaan utama masih dalam bidang kesehatan untuk membantu mengendalikan rasa sakit atau memperbaiki kesehatan. ZenZone Interactive yang didanai Inggris dan Eropa telah mengembangkan aplikasi yang menggunakan perangkat kepala EEG untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran.

ZenZone mengatakan, “Sekitar 10 tahun lalu, kami menyadari adanya kesempatan untuk melakukan kombinasi kekuatan teknologi dengan kekuatan pikiran. Baru belakangan inilah visi tersebut dimungkinkan karena…headset baru pembaca gelombang otak semakin banyak di pasaran.”

Selain itu, tahun ini juga terbit persetujuan untuk mesin pengendali pikiran perawatan kesehatan yang lebih hebat.

Nathan Copeland, yang menderita lumpuh pada kecelakaan lalu lintas 12 tahun lalu, menggunakan kendali pikiran untuk menggerakan lengat robot dan melakukan salam kepalan tangan dengan Presiden Obama dalam acara White House Frontiers Conference di Pittsburgh, Pennsylvania, pada Oktober lalu.

Pembelajaran adalah salah satu daya tarik baru bagi perusahaan-perusahaan BCI. Misalnya Nervanix dari Naples, Florida, dengan produk Clarity yang “mengukur tingkat perhatian para pembelajar ketika mereka sedang belajar.”

Halo Neuroscience mengaku telah membantu mempercepat pelatihan pilot dan penembak jitu Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) hingga 50 persen. Teknik yang dipakai adalah neuropriming yang mengandalkan pengumpanan sinyal-sinyal ke dalam otak.

Pada Oktober lalu, National Institutes of Health mengumumkan kenaikan dana dua kali lipat untuk memprakarsai Brain Research through Advancing Innovative Neurotechnologies Initiative, sehingga total dana untuk tahun fiskal 2016 lebih dari US$ 150 juta.

Pertimbangan Moral

Namun demikian, sejumlah pihak mempertanyakan apakah kehati-hatian telah dilakukan untuk memastikan bahwa semua faktor tercakup dalam BCI, termasuk menjaga privasi data otak hingga cakupan pengendalian pikiran.

Belum jelas apakah peraturan dan pengendalian yang ada sekarang telah cukup untuk urusan ini.

Apalagi kalau bicara soal kontak pikiran-ke-pikiran. Kata John Trimper dan Karen Rommelfanger, para peneliti dari Emory University, bahwa “tindakan menghubungkan otak-otak bersama-sama untuk pemindahan informasi mengundang beragam pemikiran tentang etika dan keamanan.”

Mereka mengajukan isu etika melalui sebuah makalah yang diterbitkan pada 2014 dalam The National Institutes of Health.

Mengenai masalah moral terkait hal ini, mungkin bisa dilihat dalam tayangan Black Mirror di televisi. Dalam episode Men Against Fires, orang-orang dikendalikan, bukan memegang kendali. Tentu saja ini cerita fiksi ilmiah, tapi mesin terkendali pikiran juga masih menjadi bagian cerita fiksi ilmiah beberapa tahun lalu.

Menurut Dr. Peter Chadha dari badan konsultasi Dr. Pete Technology Experts, seandainya para pengembang dan pembuat kebijakan telah mengatasi hal-hal terkait, moral dan etika, maka tidak ada alasan kenapa BCI harus dibatasi meningkatkan cara hidup kita.

“Menurut saya, bantuan hibrida komputer-manusia akan hadir lebih awal daripada dugaan kita, dalam 20 tahun ke depan,” kata dia.

“Sistem itu akan membantu kita merekam kenangan-kenangan kita, mengerti orang yang kita temui, dan memberikan kedalaman pengetahunan…semuanya hanya dengan menekan layar.”