Ahok Ingin Paksa Standar TransJakarta ke Pemilik Kapal Angkutan

Ahok di sela kampanyenya (detikcom)

Liputansaku.com, Jakarta – Calon gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berbicara soal transportasi dari Jakarta ke Kepulauan Seribu. Ahok akan mengambil alih kepemilikan kapal rakyat dengan sistem pengelolaan seperti TransJakarta.

“Saya sejak 2015 TransJakarta mengubah jenis usaha, salah satunya jenis usaha angkutan. Makanya sejak tahun lalupun kita sudah membuat orang dari Pulau Seribu naik ke daratan, langsung naik TransJakarta gratis. Nah kita juga sudah luncurkan dua tahun lalu, Kapal Sabuk Nusantara dari Sunda Kelapa. Nah, sekarang Kapal Sabuk Nusantara kan telusuri semua Pulau Seribu, nah saya lagi minta satu lagi, supaya tiap pagi itu dari Pulau Seribu ke Jakarta, dari Jakarta ke Pulau Seribu,” ujar Ahok di Cilincing, Jakarta Utara, Senin (2/1/2016).

Menurut Ahok, kehadiran Kapal Sabuk Nusantara sebagai transportasi penghubung dari Jakarta ke Kepulauan Seribu dan sebaliknya sangatlah penting, meski lajunya pelan. Dia berkata dengan tarif yang murah, orang-orang mau menggunakan jasa Kapal Sabuk Nusantara tersebut.

“Karena dia ngangkut barang hanya Rp 5 per kilometer sehingga orang usaha mau kirim barang. Sekarang kamu lihat, beras, minyak goreng, gula, di Pulau Seribu sama daratan sudah sama,” jelasnya.

Dia melihat fenomena kapal rakyat itu seperti angkutan darat Metromini, Kopami, Kopaja, dan sebagainya. Masalahnya menurut Ahok, jika pemerintah menambah kapal yang lebih baik, pemilik kapal-kapal tersebut akan mengalami kerugian. Dia mengaku dilema.

Oleh karenanya Ahok berkata dia akan mengambil alih kepemilikan kapal-kapal swasta tersebut. Dia akan menerapkan pola TransJakarta dalam pengelolaannya.

“Saya juga memerhatikan kasus seperti Metromini, Kopami, Kopaja, kapal-kapal itu milik perorangan. Nah, kalau kita tambah kapal yang baik, mereka akan bangkrut, kasihan. Tapi dibiarkan juga, enggak mampu memenuhi standar,” ujarnya.

Memang begitulah konsekuensi untuk menjamin standar kapal-kapal yang beroperasi di laut Jakarta. Bila TransJakarta masuk laut, maka standar dan pengoperasian kapal-kapal yang selama ini sulit dikontrol diprediksi bakal lebih terjamin mutunya.

Supaya pemilik kapal-kapal itu tidak benar-benar bangkrut, diterapkanlah konsep pembayaran rupiah per mil sebagaimana rupiah per kilometer untuk pemilik bus-bus swasta yang berintegrasi ke TransJakarta. Dengan begitu, pengusaha tak lagi kejar setoran, standar pelayanan terjamin, dan keselamatan penumpang lebih terjaga.

“Makanya, kami mau ambil alih dengan cara pola TransJakarta. TransJakarta kan kita bayar rupiah per kilometer, kalau kapal kita bayar rupiah per mil, itu sudah mulai kita lakukan sejak tahun lalu. Nah kita lagi mengkaji aturannya. Transjakarta, saya kira akhir bulan ini, selesai. Saya targetkan, kapal-kapal itu dibayar rupiah per mil oleh PT TransJakarta,” imbuhnya.

Ahok mengaku tak khawatir jika ada permainan penumpang. Dengan sistem pembayaran menggunakan kartu persis seperti TransJakarta, Ahok yakin semua akan teratur. Untuk target pengadaannya sendiri, dia mengaku akan menambah jumlahnya secara terus menerus.

“(Targetnya) Tergantung penumpang, sama kayak Transjakarta kita tambah terus. Jadi kalau swasta masuk, kita bayar. Jadi mereka kita paksa membangun kapal standar yang kita mau. Dia bisa ngutang bank, kita Bank DKI pinjemin, kita bayarnya rupiah per mil. Ada atau tidak ada penumpang kita bayar,” kata Ahok

Ahok masih ingat pada Juni 2015 dia pernah memerintahkan TransJakarta untuk mengkaji kemungkinan ekspansi bisnis ke laut Jakarta. Namun hingga kini kajian itu belum membuahkan realisasi. “Tentu dia butuh waktu karena BUMD, akhir bulan akan selesai,” kata Ahok memaklumi.

Soal kapal di laut Jakarta, sebagaimana diketahui belum lama terjadi kebakaran kapal swasta bernama Kapal Motor (KM) Zahro Express. Kecelakaan 1 Januari kemarin itu merenggut korban jiwa 23 orang. Kapal itu adalah kapal milik swasta.

 

 

 

Detik.com