Memburu Sisa Perampok Sadis Pulomas

Polisi tak butuh waktu lama untuk menangkap para perampok sadis rumah mewah arsitek Dodi Triono, di Jalan Pulomas Utara, Nomor 7A, Kayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin 26 Desember lalu.

Polda Metro Jaya di-back up Polri menangkap dua dari empat tersangka perampok di rumah kontrakan milik Kimley, Jalan Kalong, RT 08 RW 02, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu 28 Desember.

Kedua perampok itu bernama Ramlan Butarbutar dan Erwin Situmorang. Polisi menghadiahi mereka dengan timah panas, satu di antaranya yakni Ramlan tewas akibat kekurangan darah usai ditembak polisi.

Tak lama, tim gabungan Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Timur dan Polresta Depok, berhasil menangkap perampok lainnya, Alfins Bernius Sinaga. Dia ditangkap di kawasan Villamas Indah Blok C Bekasi Utara Jawa Barat.

Alfins diduga berperan sebagai pengemudi mobil yang digunakan untuk merampok rumah mewah milik korban Dodi Triono tersebut.

Total, tiga perampok sadis Pulomas yang ditangkap. Masih menyisahkan satu tersangka lagi. Polisi bertekad segera menemukannya. Satu tersangka yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) adalah Ridwan Sitorus alias Ius Pane atau Marihot Sitorus.

Polda Metro pun mengeluarkan selebaran informasi terkait buronan tersebut. Polisi meminta masyarakat yang mengetahui keberadaan tersangka segera melapor ke kepolisian.

“Iya betul (selebaran) itu dari Polda Metro. Kita menerbitkan DPO biar masyakarat lebih paham dan mengerti,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Jumat 30 Desember 2016.

Argo menambahkan, penyidik terus memburu sang perampok sadis Pulomas tersebut. “Penyidik masih terus bekerja. Juga melakukan penyelidikan untuk mengembangkan kasus ini,” ujar Argo.

Dia mengatakan, pihaknya telah menerbitkan status DPO sejak Kamis 29 Desember kemarin. Dia meminta masyarakat bekerja sama dengan kepolisian untuk menangkap buronan ini.

“Kita berupaya menangkap yang satu lagi yang sampai sekarang masih buron. Kemarin kita udah menerbitkan DPO dan sudah menyebarkan ke media sosial juga,” ujar Argo.

Sementara Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Rudy Heryanto Adi Nugroho telah mengultimatum buronan ini untuk menyerahkan diri. Sebab, polisi akan terus mengejar pelaku ke persembunyiannya.

“Kami sudah ultimatum yang bersangkutan untuk segera menyerahkan diri. Kalau tidak, akan kami tindak tegas,” kata Rudy.

Dia menuturkan, foto-foto Ius Pane sudah disebar ke berbagai tempat. Dengan begitu, polisi akan mendapatkan informasi lebih banyak mengenai keberadaan Ius. Rudy pun menyarankan Ius menyerahkan diri sebelum petugas bertindak tegas.

“Saya sudah perintahkan untuk tangkap Ius dalam keadaan hidup atau pun mati,” Rudy menegaskan.

Adapun ciri-ciri Ius, yakni memiliki luka di bagian pipinya, warna kulitnya sawo matang, bentuk wajah persegi, dan rambut berwarna hitam. Buronan itu lahir di Medan, 11 November 1971.

Rudy meminta masyarakat yang mengetahui keberadaan Ius untuk memberitahukan ke polisi terdekat atau menghubungi piket Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada nomor telepon 0822 9991 1996.

“Jangan pernah menangkap buronan ini sendirian. Jika memiliki informasi keberadaan buronan ini segera hubungi nomor telepon yang tertera. Aktif 24 jam,” ujar Rudy.

11 Orang disekap dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter tanpa ventilasi selama 17 jam di rumah mewah, Jalan Pulomas Utara, Nomor 7A, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa 27 Desember lalu. Enam orang tewas dan lima lainnya terluka dalam peristiwa ini.

Enam korban tewas yakni pemilik rumah Dodi Triono serta dua putrinya, Diona Arika Andra Putri dan Dianita Gemma Dzalfayla. Kemudian teman Gemma, Amel, serta dua sopir pribadi bernama Yanto dan Tasrok.

Sementara, lima korban selamat yakni, anak Dodi bernama Zanette Kalila Azaria, serta empat asisten rumah tangga bernama Emi, Fitriani, Santi, dan Windy. Kelima korban selamat masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Dalami Jenis Senjata Api

Perampok sadis di Pulomas, Jakarta Timur diketahui menggunakan pistol saat beraksi di kediaman Dodi Triono pada Selasa 27 Desember lalu. Polisi kini tengah menyelidiki jenis dari senjata tersebut.

“Pistol sedang didalami karena menurut keterangan Sinaga (Alfins Bernius Sinaga) tadi malam, yang membawa pistol adalah saudara Ius. Kita akan melakukan pengejaran,” tutur Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan di Pulomas, Jakarta, Kamis 29 Desember 2016.

Iriawan menyebut, jenis dari pistol tersebut juga masih simpang siur. Sebab, berdasarkan keterangan pelaku yang diciduk terakhir yakni Alfins Bernius Sinaga, senjata itu berjenis airsoft gun atau senjata angin.

“Kita belum memastikan. Sinaga mengatakan itu gas gun tapi saksi melihat itu pistol senapan api. Kita belum memastikan. Yang jelas kita melakukan pengejaran dari sisa pelaku,” jelas Iriawan.

Tak butuh waktu lama, polisi akhirnya menemukan menemukan dua senjata api yang digunakan Ramlan Butarbutar cs saat beraksi di rumah Dedi Triono. Dua pucuk senjata itu ditemukan di kawasan Tapos, Depok, Jawa Barat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, barang bukti itu diamankan pada Kamis 29 Desember 2016 malam. Senpi semula dititipkan salah satu pelaku Erwin Situmorang kepada Ginon, penjual daun pisang yang biasa berjualan di Pasar Cibinong, Bogor.

“Yang bersangkutan (Ginon) dititipi oleh Erwin sebuah karung. Kemudian si Erwin ini menyampaikan ke penjual daun ini, ‘Pak Ginon, dua hari kalau saya tidak datang tolong kasihkan teman saya, nanti mau diambil’,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Jumat 30 Desember.

Namun rupanya Erwin tak kunjung kembali mengambil titipannya. Sebab, lanjut Argo, Erwin lebih dulu ditangkap bersama Ramlan di kawasan Bekasi, Jawa Barat pada Rabu 28 Desember siang.

“Makanya kemarin, barang tersebut diambil oleh temannya Erwin, karung itu,” sambung dia.

Namun Argo tak menjelaskan identitas rekan Erwin yang mengambil barang tersebut.

Tak berselang lama, rekan Erwin mengembalikan karung tersebut ke kakak perempuan Ginon yang juga tidak disebutkan identitasnya. “Kemudian kita ambil karung itu, ternyata isinya karung itu adalah senpi dua biji,” kata Argo.

Kini dua senjata yang diduga kuat digunakan saat merampok rumah Dodi Triono itu telah diamankan penyidik. Dua barang bukti itu masih diteliti di Laboratorium Forensik Polri untuk menentukan jenisnya.

“Kemudian dua orang tadi, Pak Ginon dan kakak perempuannya sedang diperiksa di Polres Jakarta Timur,” ujar Argo.

Keluarga Perampok Minta Maaf

Polisi menembak mati salah satu perampok Pulomas Ramlan Butarbutar. Jenazah Ramlan yang sempat menginap beberapa hari di RS Polri, Jakarta Timur akhirnya diambil pihak keluarga.

“Kami atas nama keluarga meminta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga korban dan seluruh rakyat Indonesia yang resah atas perlakuan Ramlan Butarbutar. Kami tahu keluarga korban tidak akan memaafkan, namun kita tetap meminta maaf,” tutur Chris, perwakilan keluarga Ramlan, di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat 30 Desember 2016.

Dia mengatakan dua tahun lalu dirinya sempat menemui Ramlan agar berubah. “Saya sudah menasihati dia. Saya pernah ngomong buat apa lakukan hal tersebut sudah tua juga kan, bertobatlah,” ucap dia.

Chris mengatakan Ramlan merupakan sopir angkot di Pulo Gadung dan telah memiliki tiga anak. “Anaknya sudah ada yang lulus kuliah, yang cowok dan dua lagi masih sekolah,” kata Chris.

Dia mengatakan, Ramlan dikenal jarang berkumpul di acara keluarga. “Dia seperti menjauh dengan keluarga. Saya sendiri tidak intensif bertemu dengannya,” ujar Chris. Dia mengaku terkejut salah satu pembunuh sadis di Pulomas adalah Ramlan.

Ramlan dimakamkan di  Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kalimulya III, Kecamatan Cilodong, Depok Jawa Barat. Jasad Ramlan diantarkan mobil Suzuki APV bernomor polisi B 2513 TFP tanpa iring-iringan kepolisian.

Setibanya di TPU tersebut sekitar 14.00 WIB, keluarga beserta kerabat Ramlan langsung menggelar upacara pemakaman secara sederhana.Dalam upacara, sang istri selalu meminta bimbingan pendeta secara virtual menggunakan ponsel. Terlihat, anak perempuan serta laki-laki Ramlan tak henti-hentinya menangis saat upacara pemakaman berlangsung.

Pantauan Liputan6.com, keluarga dan kerabat Ramlan yang menghadiri pemakaman tersebut menutupi wajahnya dengan kain. Nisan pun tidak tampak tertulis nama Ramlan.

Usai jenazah Ramlan dikebumikan, keluarga pun langsung meninggalkan TPU tersebut.

Salah satu keluarga dekat korban yang menghadiri pemakaman tersebut, Abner Sitorus mengatakan alasan Ramlan dikuburkan di TPU tersebut karena sebelumnya saudara-saudara dari Ramlan juga ada yang dimakamkan di TPU tersebut.

“Rata-rata semua saudara-saudara [Ramlan](Ramlan “”) dimakamkan di TPU Kalimulya. Mamak, dan Abang juga di sini,” ujar Abner, Jumat 30 Desember 2016.

Abner meminta maaf kepada keluarga korban atas tindakan yang dilakukan oleh saudaranya tersebut. “Mohon maaf sebesar-besarnya atas perbuatan atau ulah keluarga kami kepada Pak Dodi dan semua yang menjadi korban,” kata Abner.

Mantan Istri Sempat Minta Dodi Pindah

Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan mengatakan, pihaknya telah memeriksa mantan istri kedua Dodi bernama Almyanda Saphira. Namun, pemeriksaan terhadap istri kedua Dodi itu dilakukan secara ringan, mengingat kondisinya masih berduka.

“Udah saya interogasi langsung, kok. Satu mantan istrinya sudah (diperiksa), saya bicara langsung,” ujar Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis, 28 Desember 2016.

Kepada Iriawan, Saphira bahkan mengungkapkan firasatnya sebelum perampokan sadis yang merenggut nyawa dua putrinya itu terjadi. Saphira sempat meminta agar mantan suami dan anak-anaknya pindah dari rumahnya di Jalan Pulomas Utara, Nomor 7A itu, karena alasan keamanan.

“Bahkan istrinya bilang, ‘Waktu itu saya sampaikan ke anak-anak enggak usah tinggal di situ dulu, karena tahu daerah itu kan rawan’,” ucap Iriawan menirukan Saphira.

Jumat 30 Desember, Almyanda Sapphira kembali mendatangi Rumah Sakit Kartika Pulomas, Jakarta Timur. Ibunda Zanette Kalila Azaria mengunjungi anaknya tengah dirawat di rumah sakit tersebut setelah selamat dari tragedi penyekapan perampok sadis Pulomas.

Perempuan yang akrab disapa Fira ini berharap polisi dapat mengungkapkan pelaku. “Saya serahkan ke yang berwajib saja,” ucap Sapphira di lokasi, Jumat 30 Desember 2016.

Dia menuturkan, para perampok Pulomas yang ditangkap bisa segera diproses hukum. Dirinya ingin pelaku mendapatkan hukuman yang berat.

Sumber : liputan6