‘Dari segi elektoral, Pilgub DKI tak terlalu pengaruhi Pilpres’

Direktur Eksekutif LIMA Indonesia Ray Rangkuti berpendapat, gelaran Pilgub DKI 2017 secara elektoral tidak begitu memiliki pengaruh terhadap Pilpres 2019. Meski Pilgub DKI Jakarta memang menjadi representasi pemilu di Indonesia.

“Sebegitu pentingkah Pilkada Jakarta? Kalau buat elektoral sih sebenarnya tidak ada. Tapi sebenarnya gengsi menjadikan pemilu di Jakarta menjadi sorotan setiap daerah,” kata Ray saat ditemui di wilayah Jakarta Pusat, Kamis (10/11).

Ray menuturkan sejak pemilihan langsung tahun 2004, masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan yang berbeda setiap waktunya. Misalnya pemilu tahun 2004, orang memilih karena kesukaan kepada seseorang.

Pemilu tahun 2009, lanjut Ray, terjadi perubahan. Di mana saat itu orang cenderung kepada partai pemerintah atau kandidat petahana. Kemudian tahun 2014 perilaku ini kembali menjadi pada figur lagi yakni Jokowi.

“Tradisi demokrasi kita saat ini beranggapan kepala daerah terbaik itu bisa jadi Presiden. Ada pandangan juga kalau habis jadi gubernur DKI punya potensi dari calon presiden,” ungkap Ray.

Menurutnya, secara elektoral Pilgub DKI tak terlalu berpengaruh pada kemenangan Pilpres. Sebab penduduk DKI Jakarta hanya 7 juta jiwa sementara provinsi lainnya hingga puluhan juta.

“Kalau secara elektoral enggak penting-penting amat Pilgub DKI. Daerah lain juga banyak pemilihnya, yang penting untuk Pilpres itu jangan kalah di Jabar, Jatim dan Jateng,” ucapnya.

Soal demo 4 November lalu, kata ray, petahana Basuki T Purnama memiliki tugas berat untuk meyakinkan warga Jakarta tetap memilih dirinya. Pasalnya elektabilitas Basuki di LSI anjlok hingga 24 persen berpindah menjadi swing voters.

“Ini akan cukup berat karena petahana harus mengambil hati para swing voters karena jumlahnya cukup besar,” katanya.

Ray menegaskan, tugas berat tak hanya menjadi tanggung jawab Ahok sebagi calon gubernur. Para partai pendukung pun harus kerja ekstra dan makin solid untuk memenangkan Ahok.

“Di tingkat mesin partai juga saya lihat masih belum cukup solid karena kita belum dengar pernyataan partai pendukung terkait demo kemarin,” ujarnya.

Ray menilai partai pendukung pesaing Ahok, Agus Yudhoyono telah bersuara soal demo yang lalu. Sementara partai pendukung Anies-Sandi masih terlihat menahan diri untuk angkat bicara kasus ini.

“Jadi kalau partai koalisi belum bersuara maka akan memengaruhi pemilihnya. Partai juga ditentukan figurnya. Jadi sekarang tinggal Mega mau ngomong apa enggak juga Prabowo juga bagaimana,” jelas Ray.

“Ini emang hari-hari berat petahana untuk meyakinkan publik. Nah kandidat rival juga sebagai memberikan gagasan-gagasan yang lebih baik dari sang petahana,” tutupnya.