2016: Tahun Paling Mematikan bagi Anak-Anak Suriah

Suriah – yang damai tak ada dalam ingatan Ahmad. Yang ia tahu, negerinya kini dalam kondisi perang, kotanya adalah puing-puing yang berserak, dan ledakan rudal yang disusul jerit tangis adalah kejadian biasa.

Bocah 6 tahun itu lahir dan tumbuh di tengah perang saudara yang tak berujung. Ia tinggal di tengah kebiadaban yang terjadi di wilayah yang pernah jadi pusat peradaban dunia.

Tak hanya masa kecilnya yang terenggut. Sebelia itu, ia dipaksa kehilangan mimpi, harapan, juga mungkin nyawa.

“Aku ingin jadi dokter. Tapi mungkin tak akan tercapai karena sekolahku diserang,” kata dia seperti dikutip dari CNN, Senin (13/3/2017).

“Kami biasanya bermain-main di halaman sekolah, tapi sekarang aku takut pergi ke sana.”

Hampir setengah anak-anak Suriah yang tewas sepanjang tahun lalu, kehilangan nyawa mereka di dekat atau di dalam sekolah.

Dan ini adalah fakta yang mengerikan yang harus diketahui banyak orang: lebih banyak bocah Suriah yang tewas sepanjang 2016 — dibandingkan tahun-tahun di sepanjang konflik yang sudah berlangsung enam tahun — demikian menurut UNICEF dalam laporan yang dipublikasikan Senin 13 Maret 2017.

Setidaknya 652 jiwa kecil melayang dalam kurun waktu 12 bulan, 20 persen lebih banyak daripada tahun 2015.

Itu adalah jumlah yang telah diverifikasi. Bisa jadi angka kematian yang menimpa anak-anak Suriah lebih tinggi.

Tak hanya itu, laporan UNICEF menyebut, 850 anak direkrut dan dipaksa terlibat dalam konflik pada 2016 — dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Para bocah dihela paksa ke garis depan dan memainkan peran di tengah pertempuran. “Seperti kasus ekstrem sebagai algojo, bomber bunuh diri, dan penjaga penjara,” kata UNICEF.

Geert Cappelaere, Direktur Reginal UNICEF untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara mengatakan, bocah-bocah di Suriah kini takut untuk hidup. “Dengan konsekuensi mengerikan pada kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan mereka,” kata dia di Homs, Suriah.

UNICEF menyebut, 6 juta anak kini bergantung pada bantuan kemanusiaan — 12 kali lipat dari situasi pada 2012.

Badan Anak-Anak PBB itu mengaku tak bisa mengakses bagian terparah di Suriah — di mana di perkirakan 280 ribu anak-anak hidup di tengah pengepungan.

“Mereka terputus dari bantuan kemanusiaan, sekarat dalam diam, akibat penyakit yang tak bisa dicegah.”

Pekan lalu, organisasi kemanusiaan Inggris, Save the Children mempublikasikan laporan yang menggarisbawahi bahwa anak-anak di Suriah menderita ‘stres beracun’ (toxic stress) — akibat kebrutalan perang yang terus berlangsung.

Setidaknya 3 juta warga Suriah berusia di bawah enam tahun tak paham apapun kecuali bahwa perang sedang berlangsung.

Save the Children mengatakan, kondisi tersebut bisa mengarah pada masalah baru yang lebih mengerikan seperti kecenderungan menyakiti diri sendiri bahkan upaya bunuh diri.

Dalam laporan tersebut, dipaparkan pengakuan seorang ayah, Firas tentang trauma yang dialami putranya Saeed (3).

“Anak saya kerap bangun ada tengah malam dalam kondisi ketakutan,” kata dia.

“Seorang anak dibantai di depannya. Saya pun dihantui mimpi buruk — tentang seseorang yang datang untuk membantai putraku. Ketika menyaksikan pemenggalan seorang anak, bagaimana mungkin aku tak dilanda ketakutan?”

Sejak perang saudara pecah pada 2011, diperkirakan 400 ribu warga Suriah tewas.

PBB bahkan menyebut, situasi di Suriah adalah krisis kemanusiaan terburuk sejak Perang Dunia II.

sumber : liputan6