1.000 Lilin di Monumen Perang Dunia II untuk Perdamaian RI

Berada satu kompleks dengan gereja tertua di Manado, Sulawesi Utara, sepintas orang mengira bangunan ini hanyalah penyangga untuk meletakkan lonceng gereja.

Ternyata, bangunan itu sebuah monumen peringatan Perang Dunia II, yang dibangun pada 1946 sampai 1947 oleh arsitek Belanda bernama Ir Van de Bosch.

Dari monumen inilah aksi 1.000 lilin untuk perdamaian Indonesia digelar pada Jumat malam, 18 Nopember 2016.

“Di bawah monumen ini sebenarnya adalah kuburan massal. Saat ini sudah dipugar dan menjadi salah satu situs bersejarah,” ungkap Debby, istri dari Pendeta Iwan Runtunuwu, pimpinan jemaat di gereja itu, Jumat malam.

Monumen itu sejatinya dibangun atas suatu kenangan Perang Dunia II, baik bagi pihak Sekutu, Jepang, maupun rakyat Indonesia semasa Perang Dunia II.

Tinggi monumen ini 40 meter, yang terdiri dari empat tiang penyangga dengan kubus persegi-empat. Kubus ini berisi abu jenazah korban perang yang dilengkapi empat roda peti jenazah.

Monumen ini dimaknai sebagai simbol penyerahan arwah korban kepada Tuhan. Empat bola roda kubus di atas disimbolkan sebagai pemisah antara orang yang mengusung dan orang yang diusung.

“Dari monumen bersejarah ini, kami ingin menyampaikan pesan perdamaian untuk Indonesia. Bahwa kekerasan, apalagi perang menghilangkan banyak nyawa. Sehingga mari menjaga perdamaian,” pungkas Debby.

Aksi seribu lilin ini berlangsung kusuk, bahkan suasana haru begitu terasa. Seribu lilin dipasang juga sebagai bentuk simpati dan belasungkawa atas bom di Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur.

Aksi damai ini diawali dengan orasi dari berbagai organisasi kepemudaan dan lintas agama. Aksi teaterikal dari Theaterholic Manado yang mengulas tentang nasionalisme, juga ikut mewarnai deklarasi yang dipelopori dari berbagai organisasi kepemudaan dan lintas agama di Sulawesi Utara ini.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Manado Rusli Umar mengutuk keras tindakan yang dilakukan atas nama agama yang terjadi di rumah Tuhan.

“Teroris itu bukan Islam, ini menjadi catatan penting. Kehadiran kami di sini untuk mengultimatum bahwa kita menentang keras terorisme,” tegas dia.

Perwakilan umat Konghucu Sofyan Jimmy Yosadi menegaskan, Indonesia didirikan bukan berdasarkan atas satu agama atau golongan.

“Negara ini didirikan atas semua golongan yang terangkum dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas dia.

Sofyan mengatakan, kematian Intan adalah kematian generasi muda Indonesia. “Teror di Gereja Oikumene Samarinda juga teror di rumah ibadah lain.”

“Untuk itu kami akan menyuarakan kita tidak takut, tidak takut dengan terorisme,” tandas Sofyan.

I Dewa Purna Diputra yang mewakili pemuda Hindu menyebut, teroris adalah musuh bangsa, musuh semua agama dan musuh bagi seluruh umat manusia yang ada di bumi ini.

“Untuk itu, mari kedepankan menjaga slogan Torang Samua Ciptaan Tuhan untuk menjaga kerukunan di Sulut dan Indonesia,” ujar Dewa.

Penggagas Deklarasi Kebangsaan Lintas Agama Fekki Korto mengatakan, kehadiran mereka di Monumen Kenangan Perang Dunia II ini untuk mengingatkan tidak ada lagi perang yang terjadi.
Selain itu, monumen ini juga mengingatkan masyarakat tidak ada lagi Intan Marbun lain yang jadi korban terorisme.

Setelah berorasi, para pemuda kemudian bergandengan tangan menuju simpang empat, pusat kota Manado untuk menyalakan lilin bersama. Setelah itu, kembali lagi ke Monumen Kenangan Perang Dunia II dan menggelar doa bersama.

Aksi yang berlangsung sekitar empat jam ini sempat melumpuhkan arus lalu lintas Kota Manado. Meski demikian, warga terlihat antusias dan ikut mendukung bahkan berdoa bersama untuk perdamaian Indonesia.

(sumber:liputan6)